just to tell u the untold ones..

voices of romance

Voices of Romance

(dedicated to my former big black gimbal)

 

 

 

Ku kemasi beberapa barang yang tergeletak diatas meja. Pigura foto-foto kenangan masalalu. Make up. Juga beberapa memo kecil.

Hari ini aku harus pulang untuk membahas lebih lanjut tentang pernikahanku. Pagi ini sedikit lain dari pagi biasanya. Mentari redup menyinari bumi, membuat suasana makin dingin untukku. Semalam tadi kutunggu hadir bayangan sahabat-sahabatku untuk melegakanku dalam mimpiku, tapi tak ada satupun yang hadir. Lelahku menanti dalam tidurku yang tak benar lelap. Membuatku pagi ini sedikit pusing.

 

Pernikahan.

Satu kata yang selama ini menghantuiku. Bukan hanya karena umurku yang mulai menginjak kepala tiga, tetapi karena apakah benar dia lelaki yang tepat untukku..?

Apakah dia bisa menerima kekuranganku dan menenangkan tangisku saat aku tak mampu menahan airmata. Dan bukan hanya itu, apakah dia bisa mengerti saat air mata ini mengalir karena aku merindukan seseorang yang tak mungkin lagi kutemui..? seseorang yang dulu sangat berharga, sosok yang selalu menjadi bagian bayangan dalam hidupku. Masalaluku yang selalu membuatku menangis dan mengenang semua. Apakah benar saat ini dia mau mengerti? Dan apakah benar saat nanti dia masih mau mengerti tentang airmataku ini? Karena aku mau suamiku nanti adalah orang yang akan kuandalkan saat semua tampak kelabu dan gelap..

 

Reza adalah sahabatku. Teman berbagi cerita. Teman saat aku merayakan keberhasilanku menyelesaikan tugas komprehensif. Teman ku naik gunung. Menyanyi di lereng merapi sambil menunggu ayam bakar kami matang di tungku batu. Teman yang membelaku saat temen2 lain mengolok-olokku. Teman yang siap mengambil semua arbei yang ada di sepanjang pendakian kami di Lawu, lalu dengan setumpuk arbei ditangan, dia akan berlari kearahku, tersenyum senang dan memindahkan semua arbeinya ke tanganku. Dia orang yang mengurut kakiku saat aku terluka menuruni punggung Lawu yang berdebu. Reza juga yang memeriksa motorku saat bocor ban depan dan menyerahkan motornya untuk ku pakai sementara dia mencari tukang tambal ban untuk motorku. Orang yang selalu punya senyum dan kebaikan untukku. Aku memujanya sebagai sahabat yang baik untukku.

Reza pernah sakit typus dan kami ramai-ramai menengoknya di rumahnya, di magelang, sekitar 70 km dari jogja. Magelang kota yang ramah dan adem. Begitu pula suasana rumah dan keluarga Reza. Mama papa juga adik-adiknya tampak senang dan ramah menyambut kedatangan kami. Kami mendapat suguhan sate kelinci. Kami bumbui dan kami bakar sendiri. Aroma bumbu sate dan kecap yang terpanggang sangat mengundang selera, apalagi didukung suasana dingin mendung kota magelang. Reza tampak lemah saat itu, pucat, tapi selalu ada senyum tersungging dibibirnya. Kami lega melihatnya kembali tertawa dan bercanda kembali.

Si big black gimbal, aku memanggilnya. Sungguh tak menyangka saat dia memutuskan untuk menghabisi rambut gimbalnya dan mengganti kostum rombeng ala anak gunungnya dengan kemeja berkerah dan celana kain. Suatu hal yang ganjil untuk kami. Anak gunung dan anak band yang nakal itu berubah menjadi mahasiswa yang baik, paling tidak dia berusaha untuk menjadi mahasiswa yang baik. Dengan tas punggung dan setumpuk hasil print out yang dilapisi mika merah dia naik ke ruang dosen untuk ikut antrian bimbingan.

Senang rasanya melihat hal aneh ini, my favourite wierdthing. Entah apa atau siapa yang sudah berhasil membuatnya berubah ini. Tapi yang pasti dia selalu bilang kalau semua yang dia lakukan adalah untuk dirinya sendiri, kalau bukan kita yang merubah nasib kita, maka siapa yang nanti akan merubahnya?? Benarkah My big black gimbal ini berubah? Ternyata hanya beberapa yang berubah. Dan masih banyak hal-hal lain yang tetap dijalaninya. Dia masih suka ikut nongkrong di kali adem sekedar untuk melepas suntuk kami di kampus. Masih suka menyanyi dan mendiskusikan beberapa pilot record teman-teman studionya. Meminta pandangan, kritik dan saran tentang beberapa lagu baru band teman-temannya.

Satu lagu kesukaanku dari band dnois, band indie jogja, yang dari pengakuannya personelnya adalah teman-teman SMU nya sewaktu sekolah di magelang. Lagu itu berjudul ”aku tak bisa”. Kami sempat nyanyikan bersama diteras kosku. Lagu yang menceritakan bahwa tak mungkin aku bisa hidup tanpamu, karena saat ku terjatuhpun selalu ada kamu sebagai peganganku. Terima kasih sahabat.. Fiuhh..  mengingat lagu itu membuatku semakin ingin bertemu Reza. Masalalu memang selalu manis untuk dikenang.

Hidup big black gimbal ini tak pernah lepas dari musik dan pendakian. Dan ketika kemudian hadir seorang gadis cantik dihatinya, maka dia khusus datang kerumah untuk mengenalkan gadis cantik ini padaku.

Namanya Vanilla, gadis cantik dari pulau Natuna, kepulauan Riau. Ceria dan sekaligus santun. Mas Astho, teman kami, yang mengenalkannya pada Vanilla.

Awal mengenal Vanilla, aku cemburu. Karena aku sadar, Reza tak akan lagi banyak bercerita dan berbagi denganku. Ada keberadaan seorang gadis cantik yang akan selalu ditengah-tengah kami. Seseorang yang selalu menjadi prioritasnya, menjadi sumber pertimbangan sebelum dia memutuskan sesuatu. Seseorang yang seharusnya juga aku sayang. Tapi sudahlah, beginilah hidup, my big black gimbal sudah menemukan hatinya. Satu-satunya penghiburku adalah senyum bahagianya. Dari sana aku yakin dia baik-baik saja.

Seandainya bisa, ingin sekali aku berbisik pada Vanilla, “aku nggak ingin dia terluka dan aku nggak ingin senyum itu hilang dari bibirnya”

 

Tapi Vanilla begitu dekatnya dengan Reza, dan tentu tak mungkin aku melakukannya.

 

Vanilla begitu indah. Cantik. Baik. Dia mau menerima Reza apa adanya, menjadi semangat Reza dan pandai mengambil hati. Dan hatikupun terambil olehnya. Tak ada lagi cemburu untuk kedekatan Reza dengan Vanilla. Aku tenang, Reza jatuh ditangan yang tepat untuknya. Sudah saatnya kami berbagi dengan pasangan masing-masing. Pada saatnya nanti akan datang seorang pria yang mungkin juga akan membuat Reza kalang kabut untuk memastikan apakah aku akan baik-baik saja dengan pria itu. Bagaimanapun Reza tetap sahabat baikku.

Sejak Reza jalan dengan Vanilla, dia hanya beberapa kali saja datang ke rumah. Tapi itu cukup bagiku. Sebulan sekali datang dengan membawa berita dan cerita tentang kehidupannya. Cerita tentang band sahabatnya, dnois. Cerita tentang mama dan papanya. Tentang adik-adiknya. Tentang falsafah hidup dan pelajaran hidup yang diterimanya.

Waktu cepat berlalu saat tiba waktu kelulusannya. Mama papanya tampak bangga dengan anak sulung yang bertoga berjalan di samping mereka. Kami memandangnya dari kejauhan dan ikut terharu. Akhirnya lulus juga..Si anak nakal yang dulu sudah semakin dewasa. My big black gimbal, kami ikut bangga.

Vanilla tetap setia disampingnya. Menatap kamera dengan senyuman, dan ikut menyambut kami yang memberi selamat atas kelulusan Reza.

Dia ikut bahagia.

Kami yakin.

 

Kami yakin.

 

Setidaknya sampai beberapa bulan lalu.

Sampai saat berita itu kami dengar. Rupanya memang manusia benar-benar hanya bisa merencana. Semua keputusan adalah Hak Yang Kuasa.

Vanilla akan menikah dalam waktu dekat.

Rezaku tampak tegar mempertahankan senyumnya, walau kadang tampak getir.

Sakit hatiku menyadari betapa sulit dia melewati semua kejadian ini. Karena aku cukup tau seberapa setia dan bulat hatinya untuk Vanilla.

Seberapa sayangnya dia pada seorang Vanilla.

Dan seberapa memujanya dia pada sosok cantik itu.

Dia bukan orang yang mudah menyerah, tapi bukan berarti dia tak bisa terluka.

 

Ingin sekali rasanya aku berbisik pada Vanilla.. “aku gak ingin dia terluka dan dan aku gak ingin senyum itu hilang dari bibirnya”

Ingin sekali rasanya aku temui Vanilla di rumahnya untuk sekedar menatap matanya, mencari sosok Reza di hatinya. Dan aku yakin aku akan dapat menemukannya.

Aku yakin masih ada Reza di hatinya.

Ingin sekali rasanya aku memohonnya untuk menunggu Reza barang sebentar.

Bersabar barang sebentar.

Reza ingin lebih siap saat nanti jadi suami Vanilla, bukan berarti Reza gak mau menikahi Vanilla.

Tapi Vanilla juga manusia, dia juga punya hak untuk menentukan siapa yang akan dipilihnya sebagai pendamping hidup. Belum lagi desakan keluarganya untuk segera menikah.

Dia memilih meninggalkan separuh hatinya dan menetapkan pilihan pada seorang pria pilihan dari asalnya.

 

Luka itu tampak nyeri.

Mata cokelatnya tak pernah bisa membohongiku, meskipun senyuman itu masih ada di bibirnya.

 

Malam itu malam ajaib, kami berbicara tentang banyak hal.

Masalalu yang indah di punggung-punggung gunung.

Lalu saling menceritakan pengalaman kami selama kami tak bertemu.

Membicarakan pekerjaan.

Membicarakan sahabat kami.

Membicarakan mengapa kami memutuskan untuk belum menentukan pilihan pendamping kami.

Membicarakan pernikahan Vanilla yang hanya tinggal 2 minggu..

Membicarakan kelanjutan cita-cita kami untuk punya tanah luas di desa. Aku ingin menjadi petani, bercocok tanam. Sedang dia ingin membeli sapi dan beternak. Menghabiskan waktu tua kami nanti di desa. Melupakan hiruk pikuk kota dan dunia perminyakan yang memusingkan. Pekerjaan yang ada sekarang ini hanyalah untuk sementara. Mencari dan mengumpulkan modal untuk menjalani hidup sebagai petani nantinya.

Pembicaraan yang sempat menjadi pembicaraan yang mustahil bagiku.

Karena kupikir takkan ada lagi waktu untuk kami mengulang persahabatan kami.

Duduk di samping Reza dan kembali membicarakan mimpi kami yang dulu..

Duduk di samping Reza dan kembali berbagi cerita..

Dia sekarang adalah pria dewasa..

Dan malam itu sempat terbersit di benakku, andai aku bisa lebih lama berbagi cerita dengan my big black gimbal ini, bisa dipastikan aku akan jatuh cinta padanya..

 

Aku dekat dengan calon suamiku ini empat bulan yang lalu. Kami satu pesawat sepulang dari meeting di jakarta. Aku sudah cukup lama mengenalnya, dia satu perusahaan denganku, hanya beda gedung. Entah chemistry apa yang Tuhan percikan dihati kami. Banyak cerita mengalir dan kami semakin dekat. Sampai akhirnya kami sepakat untuk lebih serius menjalani hubungan. Dan hari ini dia akan datang kerumah untuk melamarku..

 

Seharusnya aku bahagia. Aku mencintai calon suamiku ini. Dewasa, tenang, mapan, dan banyak orang bilang he is a good rightman for me. Dia juga pandai mengambil hati orang tuaku.

Resiko yang harus kuhadapi adalah harus siap untuk keluar dari pekerjaan yang kucintai ini. Di perusahaan kami, tidak diijinkan bagi sesama pegawainya untuk menikah, bila terjadi pernikahan antar pegawai maka salah satu harus siap untuk mengundurkan diri.

Fiuuhhh… melepaskan begitu saja pekerjaanku dan menjadi ibu rumah tangga??

Mendampingi suami dan mengurus anak??

Meninggalkan produksi harian yang turun naik.

Meninggalkan optimasi pompa, stimulasi dan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Meninggalkan lokasi sumur produksi minyak yang selama ini menjadi hiburanku saat aku rindu gunung dan pendakian.

Mengingat kembali idealisme masa muda. Tugas seorang anak untuk berbakti pada orang tuanya, dan tugas seorang istri untuk berbakti pada suaminya.

Ingatanku itu membuatku bimbang..

Apakah aku masih bisa seperti cita-citaku dulu?

Untuk menjadi petani dan menghabiskan masa tuaku sebagai petani di desa..

Apa Reza juga masih ingat dengan cita-cita kami dulu?

 

Dhika, sahabatku di Tanjung, kalimantan selatan itu berkata, ternyata memang cinta tak mengenal dunia, mestinya kamu harus lebih sabar dan ikhlas menerima kepergian Reza. Usap airmata dan kembali tersenyum.. dan akupun setiap hari melakukannya. Menangisi, menyadari kepergiannya, menghapus airmata dan tersenyum yakin, dia tenang disana. Setiap hari. Dengan ritual yang sama.

 

Setelah pembicaraan yang panjang di malam ajaibku itu, Reza pulang ke magelang dan mengalami kecelakaan di jalan.

Dia koma, tak sadar dan hanya berbaring diruang yang penuh alat-alat kedokteran yang tak pernah kumengerti..

Gegar otak berat karena benturan keras di kepalanya menyebabkan dia tertidur panjang dan lelap..

Wajahnya tetap menyunggingkan senyum khasnya..

Tapi dia tetap diam tak bergerak.

Aku menungguinya di rumah sakit. Di luar hujan membasahi Jogja yang mulai sepi. Malam merayap membuat semua semakin tampak tak jelas untukku..

Aku larut dalam penantianku..

Menunggunya kembali duduk disampingku dan bercerita..

Menunggunya kembali duduk disampingku dan tertawa..

Aku larut dalam doaku..

Berdoa untuk kesembuhannya.

Berharap untuk kesembuhannya.

Berdoa.

Berharap.

Berdoa.

Berharap.

Berdoa.

Berharap.

Berdoa..

Berdoa.

Berharap.

Berdoa.

Berharap.

Berdoa..

 

 

Untuk yang terbaik baginya..

Meskipun itu berarti dia harus meninggalkan kami..

Dan setelah doa terakhirku untuknya, pintu ICU dibuka..

Perawat memanggil orang tua Reza untuk masuk.

Dengan isyarat tangan, papa Reza memanggilku untuk ikut masuk..

Kulihat Reza tidur tenang dengan senyuman..

Dan angka-angka di layar monitor jantung tampak mengecil..

Mengecil..

Mengecil..

Nil..

 

Pukul empat pagi dia pergi untuk selamanya..

Tanpa meninggalkan pesan sepatah katapun..

Tak ada yang tersisa di hatiku selain kata kehilangan.

Aku kehilangan seseorang yang baru saja ku temukan..

Za katanya mau beli sapi..?

Ayo bangun.. aku nunggu disini..

Dan hanya diam yang kupunya..

… dia benar-benar hilang dariku.. tak pernah bisa kutemukan lagi..

 

Aku selalu tak bisa menahan airmataku saat ingat semua tentang dia.

Mendengar semua tentang dia.

Melihat semua tentang dia.

Aku mulai bimbang dengan pernikahanku saat aku sadar aku juga akan kehilangan satu-satunya kenangan Reza dalam hatiku..

Apakah mungkin nanti aku lanjutkan cita-cita Reza?

Hidup tenang sebagai petani didesa yang sunyi.

Menjaga sapi-sapi yang menunggu pemiliknya yang takkan pernah kembali..

 

Aku meragukannya..

Karena calon suamiku ini bukan tipe orang yang suka kerepotan pedesaan.

Dia lebih suka tinggal di jakarta yang hiruk pikuk dibandingkan desa yang sunyi..

Dia lebih suka berkaraoke dari pada memainkan gitar dan bernyanyi untukku.

 

”aku hanya menjalani hidup..”

Begitu kata Reza malam itu..

Hidup adalah pilihan..

Aku sadar Reza hanya bayangan, dia tak pernah menjadi pilihan untukku.

Aku menikah dengan seorang manusia yang pasti punya kelemahan. Bukan dengan bayangan yang hanya bisa di kenang..

tak ada lagi Reza yang sama didunia ini..

Reza hanya satu.. dan dia sudah tenang di magelang, tanah kelahirannya..

Impian kami terkubur bersamanya..

 

Sekarang aku hidup dengan masa depanku..

Aku akan memainkan peranku sebagai lovelywife dan goodmom.

Menyambut lamaran calon suamiku dengan bahagia..

Karena aku yakin Reza pasti juga bahagia dengan kebahagiaan ku.

Dan selama ini pasti dia sudah lama menunggu saat-saat bahagiaku ini.

 

Kusibak tirai jendela kamarku.

Memasukkan pembersih muka kedalam tasku.

Biasanya disaat-saat aku membutuhkan ketenangan seperti saat-saat sekarang ini, sahabat-sahabatku akan datang dalam mimpiku, melegakanku dan menenangkanku..

Mereka akan datang dengan senyum hangat dan peluk erat yang meredakanku.

Tapi malam ini mereka tak lagi hadir dalam mimpiku.

Tak ada senyum Reza, Gamma, dan Eko, sahabat-sahabatku yang sudah pergi itu..

Tak ada peluk erat mereka dalam mimpiku..

Sebagai gantinya, aku merasa tenang saat aku melihat foto calon suamiku diatas meja.

Sekarangkah waktu bagi mereka untuk melepaskan ku?

Aku yakin kini mereka lebih tenang dan bahagia di alam sana.

 

Kudengar sayup-sayup lagu lagu cinta untukku dari kejauhan..

Lagu cinta dari sahabat-sahabatku untukku..

Melepasku untuk menempuh hidupku,

Selalu akan ada doa untuk kalian sahabat..

Walau dunia memisahkan kita..

 

 

 

 

 

 

 

 

Miss u much My Big Black Gimbal.. Rest in Peace..-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: