just to tell u the untold ones..

Posts tagged ‘Danny’

Die! (Lots Like Love)

Brakk!

Perhatian Danny teralihkan ke arah tengah lantai mezanin. Tampak isi tas berhamburan dan seorang gadis sibuk mengumpulkannya kembali. Ah wajah yang sangat dikenalnya. Wajah yang selalu tersenyum. Si anak baru, dari daerah.

“Aku ke ATM dulu aja ya”, kata Alice memecah kembali perhatian Danny. Tak peduli lagi sampai mana pembicaraan kecil mereka tadi.

“Oh aku anter aja ya”, kata Danny tersadar.

Alice hanya memandangnya dengan mata penuh pertanyaan dan kepala sedikit miring.

“Aku beneran, aku antar aja yuk”, kata Danny tersenyum sambil mengajukan lengannya untuk digandeng Alice.

Alice mengangguk dan membalas senyuman Danny dengan lega. Alice menunggu lama waktu untuk dapat dekat dengan Danny. Beberapa kali Alice mencoba mencuri pandang setiap Danny lewat didepannya atau saat mereka sekedar berpapasan. Siang ini ketika Alice berdiri di sebelah eskalator menunggu Shanti untuk makan siang bersama, tiba2 Danny menghampiri, menyapa dengan senyumnya yang menenangkan lengkap dengan bubbly face nya yang jelas melelehkan hatinya. Ah, geologist lengkap dengan kulit kecoklatan, careless hair, sedikit jambang dan jaket kulit. Die!

Rafida tergesa2 mengumpulkan barang2nya yang berserakan. Ekor matanya sempat menemukan mata Danny yang menatapnya. Sedikit menikmati mata itu dan tersenyum sendiri.

“boys will always be boys..”, desisnya. Melangkah menjauh sambil mendekap tasnya. Bukan pertama ini Rafida menemukan Danny dengan mudahnya menggandeng cewek. Walau bukan salah Danny juga untuk memiliki senyum lady killer begitu.

Rafida dan Meida tergesa menuruni lantai lower ground gedung Sampoerna untuk ke toilet. Sale d lantai ground memaksa mereka untuk tetap bertahan demi barang2 incaran mereka.

Ups!

Rafida menahan senyum ketika kali ini Danny tampak berjalan bersebelahan dengan Ester. Bukan kali pertama, bukan kali kedua dan bukan kali ketiga. Matanya secara tak sengaja beberapa kali menemukan Danny tampak sedang mendekati perempuan. Don Juan.. Typical!
Rafida mengalihkan perhatian dan pandangannya tepat setelah mata Danny menemukan matanya. Rafida membuka handphone mencoba menjawab beberapa bbm tertunda ketika tiba2 dikagetkan dengan langkahnya yang menabrak sesosok tubuh.

Shit!

“Ya?”, tanya Rafida mendapati Danny yang tegak berdiri di depannya dengan muka jelas ga suka.

“Judging?”, tanya Danny.

Rafida mengernyitkan dahi. Mencoba mengerti apa maksud lawan bicaranya.

“Danny”, Danny menyebutkan nama sambil mengulurkan tangan. Rafida menyambut uluran tangan sambil tetap memasang muka heran.
“Ada masalah dengan aku?”, Danny membuat Rafida semakin heran.

Disebelahnya, Meida juga terheran-heran. Entah apa yang sedang terjadi.
Rafida mundur selangkah. Menyebalkan sekali Don Juan satu ini. Bukannya selama ini aku juga ga ada komentar apa apa, bahkan selalu berusaha untuk mengalihkan pandangan agar ga ada rasa ga enak ga enakan. Dan sekarang dia bilang aku judging?, batin Rafida.

“how could a bird judge a fish?” Danny kembali menunjukkan muka serius dan marah.

Danny sedikit minggir menghindari tubuh Rafida, lalu mengejar Ester yang melangkah kesal karena merasa diabaikan.

Meida dan Rafida berdiri mematung. Sekali lagi, entah apa yang sedang terjadi.

Rafida membenci rapat kali ini. Benci sebenci bencinya. Bukan karena rapatnya yang mendadak dan mengharuskan team mati2an cepet2an menyelesaikan pekerjaan. Rafida jelas membenci rapat ini karena harus satu ruangan dan berdiskusi dengan Danny! Don Juan kesiangan!

Rafida melirik team lain, mencoba bernegosiasi dengan Arief dan Krisna untuk bertukar team. Syukurlah Arief mau tukar team dengan Rafida. Walau tetap satu ruangan setidaknya Rafida tidak harus banyak berinteraksi dengan Danny

“Apalagi yang kamu mau?”, tanya Danny tiba2 di belakang Rafida yang sedang bekerja dengan laptopnya. Rafida tetap tidak menoleh. Melanjutkan pekerjaannya.

“Kamu pikir aku ga tau kamu ganti team? norak”

Rafida berbalik badan, menemukan Danny yang marah entah karena apa lagi.

“Kenapa setiap aku jalan dengan teman2 cewekku kamu selalu menatap ga suka?”

Rafida mengernyitkan dahinya.

“Jangan-jangan.. kamu naksir aku ya?”

“Atur aja lah Dan”, Rafida tak habis pikir, entah apa yang ada di otak Danny. “Terserah kamu mau bilang apa, aku ikut aja”, Rafida memutar badannya kembali menghadap laptopnya. Memunggungi Danny.

“Dasar Norak!” Danny memutar badan meninggalkan tandatanya di benak Team Rafida. Rafida tersenyum tipis, menghela nafas dan menggeleng kepala. Kembali tak habis pikir.

Brakk!

Danny menutup pintu ruang rapat. Tersisa mereka berdua.

“Sebenarnya ada apa dengan kamu?”, tanya Danny.
“Maaf, bukannya aku yang seharusnya tanya. Sebenarnya ada apa dengan kamu?”, balas Rafida.
Danny mencondongkan badannya ke arah Rafida. “Sekarang masih belum tau juga?”, tanya Danny lagi.

Tubuh Danny rapat di punggung dan bahu kirinya.

Rafida terdiam. Hatinya merutuk. Kenapa mulut membisu, seluruh tubuh berhenti bergerak. Sendi sendi terkunci, kelu.

Rafida semakin bertanya-tanya ketika melihat wajah Danny. Bukan wajah marah, bukan wajah menyebalkan sok ganteng yang selama ini ditemukannya. Wajah yang terpaku memandang wajah Rafida. Dan menunduk ketika Rafida balas memandangnya.

Danny meraih tangan Rafida yang dingin. Dan hangat menjalar keseluruh tubuh Rafida.

“Sekarang sudah tau?”, tanya Danny.

Ah, geologist lengkap dengan kulit kecoklatan, careless hair, sedikit jambang dan jaket kulit.

Die!

-Peek a boo! u got a missed clue! Hate lots like love, strikes straight to the heart-

Tag Cloud