just to tell u the untold ones..

Pria dan Pelari

 

 

 

Pria dan Pelari

 

 

Si Pelari masih berlari, kakinya tampak kuat dan berotot. Menembus hujan yang rinai membasahi bumi Perabumulih yang biasanya gersang. Bau tanah basah menyegarkan sendi-sendi tubuhnya, menjalar dan menyentuh setiap sel tubuhnya.

 

Hari ini dia menangis dalam lari dan hujan.

 

’aku sendiri dan tenyata harus kembali sendiri..’

 

Angan menjauh ke hatinya yang jatuh pada seorang pria yang jauh disana. Bekerja di bawah tempaan sinar matahari panas di sebuah pulau penuh belantara.

Pria yang selama ini selalu bisa menjadi sahabat berbagi cerita.

 

’bagaimana mungkin? Kalau memang salah satu dari kita tak ada yang mau mengalah untuk meninggalkan pekerjaan kita?’

 

Jarak dua pulau memang bukan halangan besar bagi sebagian orang, namun rendahnya frekuensi pertemuan tentunya akan menjadi salah satu pemicu keributan di antara mereka. Uff.. belum lagi orang tua yang menginginkan segera menimang momongan.

Si Pelari makin mempercepat langkah saat galau semakin menyesakkan dadanya, sementara nafasnya semakin terhalang hujan yang semakin deras.

 

’Bagaimana? Lalu siapa yang nantinya akan menemaniku disini? Membuatkan sarapan saat aku harus berangkat kantor dan siapa yang akan membuatkan bekal makanan saat aku berangkat ke lokasi?’

 

’lalu dimana peran kamu sebagai istri nantinya?’

 

’menemaniku, menyambutku dan bercinta?’

 

’siapa yang akan melakukan tugas-tugas itu?’

 

Dan si Pelari tetap berlari..

Asanya semakin jauh untuk dapat bersama hatinya yang kekar dan perkasa.

Hatinya yang tampan dan kekar itu, tentu banyak yang ingin mengajaknya bercinta an banyak yang ingin diajaknya bercinta. Dan kesetiaan? Dimanakah kesetiaan saat cinta mengajaknya bercinta? Menikmati malam-malam bersama. Bahkan menikmati pagi, siang dan sore bersama dalam nafas yang seirama?? Di mana kesetiaan berada?

 

’melayani dan membahagiakan suami adalah tugas istri..’

 

’dan melayani dan membahagiakan istri adalah tugas suami..’

 

’tapi dimana kamu berada saat aku inginkan hembusan nafasmu dekat dengan leherku?’

 

’dan dimana pula kamu saat aku juga menginginkan gigitan mesra di ujung kupingku?’

 

’lalu dimana kesetiaan berada saat itu?’

 

’dia berbeda..’

 

’bukankan seharusnya kamu mengerti?’

 

’mengerti sesuatu yang seharusnya aku mengerti?’

 

’itu kewajiban’

’dan itu juga kewajiban’

 

 

Tak ada hening yang menjadi ketenangan, hanya deras hujan dan sesak didada. Entah, sesak karena hujan deras ini atau memang karena nafas sudah mulai habis seiring tubuh yang semakin lemah?

Tapi yang pasti air hangat mulai terasa di pelupuk mata.

Mengapa seorang perempuan selalu cengeng dan cengeng.

 

’itulah, perempuan hanya menggunakan perasaan tanpa logika. Kalau hanya mengira-ira apa yang terjadi, maka penilaian jadinya subjektif’

 

’tapi kalau memang kamu inginkan wanita lain, itu hal yang wajarkan?’

 

’aku tak kan pernah menginginkan wanita lain hai perempuanku, berlarilah agar pikiran buruk itu hilang dari otakmu yang mulai aneh itu’

 

’dan kalau akupun berlari, akankan ada kesetiaan di hatimu hai priaku?’

 

’jangan tanyakan hal yang jawabannya adalah waktu, biarkan waktu yang nanti akan berbicara, berlarilah. Berlarilah hai perempuanku. Berlarilah’

 

’aku akan berlari asal engkau berjanji hai priaku’

 

’janji untuk apa lagi?’

 

’berjanjilah untuk menjaga hatimu untukku..’

 

’biarkan waktu yang akan menjawabnya. Untuk saat ini tak ada wanita lain selain engkau hai pelariku. Berlarilah..’

 

Suatu akhir dari penaklukan atau suatu awal dari kehilangan?

Suatu awal dari kehilangan atau suatu akhir dari suatu hubungan?

Terengah dalam cinta dan pelariannya..

 

’aku sangat cinta dia, si pelari, si penembus hujan dalam lari’

’wanita terindah yang pernah singgah dalam hidupku, wanita terangkuh yang pernah jatuh dalam pelukku, wanita mulia yang mau meninggalkan kemuliaannya untukku’

’wanita yang suci dan mau berdosa untukku’

’wanita yang mau kuaniaya batinnya dan kubahagiakan tubuhnya’

’walau hanya sebulan sekali bahkan kadang dua bulan sekali’

’wanita yang mau mengangapku benar walau aku salah’

’ah..’

’cinta memang buta’

’ups..’

’cinta adalah candu’

’lagi?’

’yah, lagi-lagi cinta adalah candu..’

’cinta?’

’mungkin’

’mungkin..?’

’samakah dia dengan nafsu?’

’seperti sekarang ini, saat ku memeluk putri kepala desa trans jawa kalimantan ini. Ini kah cinta? Atau.. inikah nafsu?’

’tubuhnya indah dan kencang, bicaranya manis semanis bibirnya yang dioles lipstik stroberi pink’

’dan si pelari?’

’kurasa ini juga cinta..’

’ya, ini cinta’

’dan hanya berbeda bentuk’

’seperti halnya, mm… genus dan species..’

’tapi pada pelari?’

’aku cinta’

’tak ingin mengecewakan’

’tak ingin dia sedih’

’tak ingin dia menangis’

’sudahlah bunuh dia saja, dia akan kecewa, dia akan sedih, dia akan menangis..’

’dia akan mati’

’dia akan mati karena cinta tak berujung’

’toh nantinya dia akan mati sendiri, karena aku disini dan dia disana’

’aku hanya akan siap menjemput, siap mencinta dan siap bercinta saat dia datang’

’aku hanya akan siap membahagiakan dan memuaskannya saat dia datang’

’tapi dia masih punya 3 adik tiri yang perlu biaya’

’jadi dia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya’

’haha walau untukku yang akan memuassskannya?’

’toh adiknya itu bukan tanggungannya kan?’

’salah siapa si monyet busuk yang disebut ayah itu menghamili 3 pembantunya sekaligus?’

(hati pria berceloteh dalam diam..)

 

 

Langkah Si Pelari makin melemah, tak ada lagi sinkronasi asa dan tenaga.

Kakinya mulai sakit, linu.

 

’akan kuijinkan priaku menikahi wanita lagi’

 

’mungkin si pecinta lebih cocok untuk priaku, karena dia perkasa dan selalu bisa membuatku terbang ke awan.’

 

’mungkin si pemasak juga cocok untuk priaku, karena dia suka makan dan makannya banyak. Bahkan kadang aku bisa tergelak saat dihabiskannya masakanku. Ikan, ayam, itik, tempe, rendang aaahh dia makan semua denga semangat. Ya ya ya, si pemasak juga cocok untuknya’

 

’bagaimana dengan si pemijat. Priaku ini sering harus berangkat ke lokasi yang pastinya selalu membuatnya capek dan pegal-pegal. Si pemijat pasti bisa membuatnya rileks kembali. Hilangkan semua pegal dan lelah.. baiklah, si pemijat juga cocok untuknya yang bekerja keras’

 

’jadi yang mana?’

 

’semua, si pecinta, si pemasak, si pemijat.. semua’

 

’dan si pelari?’

 

’aku hanya si pelari, priaku takkan pernah benar-benar membutuhkanku. Hatinya tak benar-benar utuh untukku. Biarlah aku tetap berlari disini. Agar tak adalagi pikiran aneh di otakku. Agar tak ada lagi priaku dihatiku. Agar cepat ku tutup mataku, telingaku dan perasaanku’

 

 

Windy in Tanjung, makes blue.. Missed all the time that ever shared together.. all the dreams n hopes has gone..

 

‘dimana kamu pelariku?’

‘berlarilah kembali padaku..’

‘aku menunggumu disini’

‘aku merindukan belaianmu’

‘aku merindukan hatimu’

’aku merindukan angkuhmu’

’aku merindukan masakanmu’

’aku merindukan pijatanmu di pundakku yang berdebu’

’aku di kejauhan ini merindukanmu’

’inginkah aku mengunjungimu?’

’rindukah kamu pada priamu?’

’aku disini baru mengerti cinta seperti apa yang selama ini kamu miliki..’

’aku disini..’

’aku menunggumu kembali’

’aku menunggumu berlari kembali’

’jangan jauh dariku pelariku karena aku rindu’

 

Tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, semua ganti. Tak ada imel yang di balas.

Tak ada lagi si pelari di kantor Bawah Kemang Perabumulih.

Dia keluar dari pekerjaan lamanya.

Dan pindah di sebuah Oil Company di Oman, jauh di sana..

 

Hanya ada pesan di friendster non aktifnya, Si Pelari akan menurut, dia akan terus berlari untuk menghilangkan semua pikiran aneh di otaknya.

Tak ada foto dan blog di friendster Si Pelari, yang pria harapkan bisa menjadi pengobat rindu.

 

Pria mulai menulis surat panjang untuk pelarinya yang telah berlari jauh.

Entah kapan pelari akan pulang.

Hilang sudah Si Pelari yang setia dalam cinta.

Separuh hatinya hilang dalam bisu.

 

Pria mulai berlari, menyusul Si Pelari..

 

Entah kapan akan bertemu..

 

Pria menangis dalam hati, kakinya mulai semakin nyeri..

Hatinya perih dan pedih..

 

’aku mencintainya dan dia mencintaiku..’

’dan aku terlena oleh banggaku dalam cintaku’

’dia Pelariku, perempuanku. Ku taklukkan hatinya setelah sekian lama’

’dan aku terlena oleh banggaku dalam penaklukanku padanya’

’kesetiaannya dulu bukanlah ketakberdayaannya atas cinta dihatinya’

’kesetiaannya akan permainan yang ku susun untuknya adalah bukti kecintaannya’

’namun aku terbuai dan terlena oleh kuasaku atas hatinya..’

’rupanya Tuhanku tetap menjaganya..’

’aku selalu menghindari pembicaraan pernikahan dengannya, betapa aku menikmati tiap kata-katanya tentang pernikahan dan pertanggungjawaban..’

’aku menikmati dia memohon suatu pernikahan’

’aku menikmati melihat dia meratap..’

’dan kini aku tak tau bagaimana cara mengatakan, saat ini aku inginkan kamu Pelariku..’

’cintaku hanya milikmu..’

’meski wanita-wanitaku selalu membahagiakanku’

’pelariku..’

’aku rindu..’

 

Pelari dalam sujudnya, menangis.

’maka sayangilah dia hai Tuhanku.. betapa aku hanya bisa berlari padaMu..’

’jalanku untuk selalu jauh darinya’

’inginku bersamanya namun semua hanya mimpi untukku..’

’maka lindungilah dia dan buatlah dia lupa akanku..’

’buatlah dia bahagia dengan semua wanita dalam hidupnya’

’dan melupa..’

’dan melupa..’

’dan melupa..’

’dan lalu aku lupa..’

’dan aku lupa..’

’dan lupa..’

 

 

’lupa sakitku akan dia’

’lupa bodohku padanya’

’lupa lariku darinya’

’lupa kumenunggunya’

’karena masih kucinta’

’karena masih ku mencintanya’

 

 

Kaki Merapi masih meninggalkan material vulkanik hasil erupsi hebat Merapi tahun 2006. Di bawah sana terhampar kota Jogjakarta dengan semua kenangan indahnya. Tapi Kaki Merapi tetap tempat terindah untuk kembali dan kembali. Mengenang hatinya yang telah berdebu.

Kali Bebeng masih menjadi pusat aktifitas para penambang pasir dengan truck-trucknya. Petani dan peternak satu persatu tampak melintasi badan Kali Bebeng. Punggung mereka penuh dengan rumput liar hasil sabitannya. Untuk makan sapi-sapi dirumah. Kayu-kayu liar diambilnya, untuk tungkunya, agar tetap menyala.

Sementara warung-warung kecil menjual kopi hangat dan gorengan. Cukup untuk menghilangkan dingin dan mengisi perut Si Pelari.

 

Kamera di tangan menjadi senjata untuk mengabadikan semua pemandangan indah ini.

Pengobat kerinduannya kelak..

 

Ini sudah 3 tahun setelah ditinggalkannya negeri indah bak pualam.

Ini sudah 3 tahun setelah kepergiannya menyimpan baik-baik semua cinta dan hati disuatu lemari besi yang tak terengkuh.

Betapa 3 tahun sudah mampu merubahnya.

Untuk lebih menghargai tiap hari yang ada, tiap kenangan yang dimiliki.

 

Matanya sendu menatap semua yang terjadi. Cukuplah erupsi 2006 melantakkan dan menghancurkan pendopo, warung-warung, cakruk kecil bahkan musholla di kaki Merapi ini, juga separuh hatinya..

Tapi penduduk kaki Merapi masih tetap punya semangat untuk hidup dan menghidupi keluarganya.

Semua telah pulih dari trauma erupsi.

Hanya ada kenangan dan kenangan..

Dan haruskah semua hanya menjadi kenangan?

 

Pelari melangkah menapak batu terjal untuk mengambil sudut bagus untuk gambarnya.

 

Kaki Merapi dari berbagai sudut pandang.

 

Gambar adalah keabadian yang fana, namun cukup berharga untuk manusia. Karena itu Si Pelari merasa harus mengabadikannya dalam gambar.

Tiap-tiap sudut yang memancing emosinya dan rindunya akan Pria.

Hanya pendakian yang selalu menyatukan mereka, Si Pelari dan Prianya.

 

Hari ini dikunjunginya kembali kaki Merapi yang sejuk ini untuk sekedar mengenang kembali Pria di hatinya. Mengusap hatinya yang penuh debu.

 

Matanya terpaku saat dilihatnya Land Rover tahun ’75 berhenti di area kali Bebeng, lengkap dengan ban cadangan diatas kap depan dan dongkrak hydraulic khas yang takkan pernah bisa dilupakannya.

 

Cairan hangat memenuhi kelopak matanya saat sadar siapa pemiliknya.

Kamera ditangan terjatuh..

Semua tampak kelabu dan debu mulai terangkat..

 

 

Si Pelari siap berlari namun tangan besar menahannya.

 

’Jangan pergi dariku lagi perempuanku..’

’Jangan lari lagi Pelariku..’

’Aku memerlukanmu disampingku..’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-maka jika cinta memang ada, jangan hanya bertahan, tapi berjuanglah-

Comments on: "Pria dan Pelari" (6)

  1. snacksore said:

    a theatrical episode, first story after all the blame..

  2. Bagus, mewakili kondisi banyak orang, bisa jadi refleksi bagi kita semua

  3. baguss!!!
    hehehe..walo masih rada kurang kordinasi kayaknya..(menurut aku pribadi)
    jadi rada sedikit sulit membedakan yang mana dialog sang pelari dan mana dialog sang pria..
    over all..keren..
    ide ceritanya.. bagus..
    terusin..terusin..

  4. snacksore said:

    untuk meluruskan benang kusut.. cerita ini inspired by kehidupan beberapa pekerja di prabumulih yang rata2 LDR dan beberapa sahabat lainnya. antara lain mbak Ninik UBEP Tanjung, Om Donny Wirawan BJ, dan tentunya Merapi di jogja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: