just to tell u the untold ones..

Jalan Pilihan

 

 

Jalan Pilihan

 

 

-Astie Darmadi-

 

Maka ketika semua nyinyir membicarakannya, dia hanya menarik napas panjang dan tersenyum. Dan kembali disadarinya, bahwa hidup hanyalah tentang bagaimana kita memilih. Jelas, bukan tentang bagaimana mereka memilih.

 

Akhirnya napas pendek mengakhiri hidupnya. Tak ada isak tangis ataupun senyum sinis yang mengiringi kepergiannya. Hanya sepoi angin senja yang dingin di kaki Lawu yang masih tegak dan angkuh. Jasadnya pun entah kapan akan orang-orang temukan. Mungkin lalat akan mengerumuninya, lalu pelan-pelan cacing-cacing dan pengurai lainnya akan membusukannya. Jiwanya takkan lagi ditemukan didunia. Jiwa yang remuk dalam ketegarannya.

 

Adjie, terlahir dari rahim seorang wanita desa sederhana. Lampau sederhana malah. Adjie bukan seorang anak yang cerdas, sehingga tak ada lagi sisa beasiswa untuknya. Tipikal anak yang tak menarik untuk mendapat biaya ekstra pendidikan. Tukang Pukul, Urakan, Pembelot. Namun Adjie punya nyali yang besar, yang sangat dia butuhkan untuk dapat terus hidup. Nyali besar yang membuatnya menjadi seorang yang besar.

 

Sumirah, dengan wajah cantik dan tubuh aduhai serta gaya yang manja menggoda, maka penduduk kampung pun tak heran jika dia hamil tanpa ada yang tahu siapa si penanam benih. Kehamilan ini membuatnya lebih bertanggungjawab dalam tiap tindakannya. Sumirah makin rajin merawat ladang stroberi milik Kang Diran, dan semakin menarik diri dari pergaulannya dengan tukan angkut stroberi atau tukang semprot antihama. Konon Kang Diran sendiri cuma pengawas ladang, pemilik aslinya bukan orang Jawa seperti Sumirah. Pemilik Ladang itu orang bule. Sumirah pernah melihatnya ketika bule itu nyicip stroberi hasil panenan ladangnya. Mirah ingat bule itu berkata Guuud, guuud. Dan Kang Diran puas dengan kerjanya. Mirah pingin anaknya nanti bisa seperti Kang Diran yang dipercaya oleh orang bule. Bagaimana bangganya Mirah nanti.

            Lawu masih berkabut tebal pagi itu, tapi Mirah dengan perutnya yang besar tampak bergegas ke ladang. Biasa, hari ini hari panenan. Harus agak pagi, karena stroberi harus sudah siap angkut jam enam ini. Mirah tampak sehat walau sedang hamil besar. Menurutnya ini adalah bulan kedelapan kehamilannya. Kira-kira, soalnya duit periksa hamil mahal. Tapi pagi itu Mirah melahirkan anaknya, tanpa bapak. Selanjutnya Mirah tampak lebih tua, duitnya gak cukup untuk biaya berdua dengan bayinya. Orang tua Mirah sama-sama bekerja sebagai petani buruh. Uang mereka habis untuk makan berdua. Dan Mirah semakin kelihatan tua dan lemah. Anaknya, semakin besar.

 

            Pagi hari ketika anaknya genap berumur enam belas tahun, Mirah bagai ditampar. Anaknya bertanya siapa Bapaknya. Atau anaknya bakal minggat. Dan Mirah hanya bisa menangis sesenggukan diatas alas tikarnya. Si Anak entah kemana. Sejak saat itu Mirah hidup sendiri dan sering menangis sambil memandang jauh, seakan mencari bayangan sosok anaknya. Tetangganya bilang, “Mirah setres”. Tapi Mirah tetap selalu menunggu anaknya pulang dan selalu berharap anaknya bakal bawa duit banyak buat pasang listrik. Kalau ada lampu, gubugnya bisa terang dan lebih anget pas malam. Kayak rumah Kang Diran. Dan Tetangganya bilang lagi, “Waah, tenan iki. Stress wong iki”.

 

            Asti tampak ceria pagi itu, seperti biasa. Disapanya semua yang ditemuinya di kampus. Anak-anak Himpunan Mahasiswa, anak-anak assisten, Bapak-bapak petugas pengajaran dan dosen-dosennya serta pegawai lainnya. Ramah memang Asti. Namun sampai umur sekian, dua puluh tiga tahun ini, Asti belum pernah pacaran. Yaa Ampuuun, se-enggak menarik apa sih Asti itu? Entahlah, cantik itu relative. Tapi nyata, barisan sakit hati karena cinta di tolak sebegitu berderetnya dibelakang nama Asti. Apa yang dicarinya?

 

            “Bukan apa-apa, dulu aku pernah sakit hati karena cowok. Kami temen deket, tapi tanpa status. Dia bilang dia sangat sayang aku. Lalu aku menanyakan status Kami. Dia bilang takkan sanggup hidup tanpa aku. Tapi kemudian dia mengulurkan sebuah undangan pernikahan. Pernikahannya dengan Tia, sahabatku yang sudah setahun ini tinggal di Australia. Dia ingin Aku jadi saksi pernikahan mereka. Aku hancur, tapi aku sanggupi. Kemudian mereka pindah ke Australia, sampai kapan Aku nggak tau… Aku kangen dia.”

            “Jadi karena sakit hati, terus kamu mutung, dan gak mau lagi pacaran??”

            “Enggak gitu, Aku pingin orang yang dengan dia aku bisa nyaman.”

            “Kapan kamu bakal nemuin orang yang kayak gitu?”

            “Who knows? Tuhan yang akan nunjukin kapan.”

 

            Masih setengah percaya Adjie menatap Asti. Bagaimana jalan pikiran seorang Asti sebenarnya? Saat semua cewek menginginkan seorang Sonny, malah Asti terang-terangan menolaknya. Apalagi ? ganteng, keren, pintar, kaya. Apalagi kalo bukan kelainan? Asti punya kelainan?

            “Djie, aku cari seorang yang dengan dia aku bisa terbang. Fly Up High… aku masih pingin sekolah, kerja, dan bahagiain orang-orang tersayangku. Tapi kalo dengan Sonny, tentu aku harus rajin ngurus rumah dan mertua. Kamu tau ‘kan, Sonny tipikal cowok gimana? Lagi pula obrolan dia selalu seputaran hujatan kepolitikan. Kamu gak kasian liat aku hidup tertekan? ”

            Adjie masih tetap dalam posisinya.

            “Terserah, kamu mau bilang aku apa”

            “He he he kalo dipikir-pikir, kriteria cowok kamu itu semua ada di aku. Jangan-jangan kamu naksir aku ya?”

 

            Mirah semakin tua. Jalannya semakin tertatih saat keranjang penuh stroberi di punggungnya makin penuh. Bukan tertatih karena beban yang dipikulnya, tapi tertatih karena tua. Kadang saat istirahat, disekanya keringat di dahi, sambil sesekali ditatapnya cakrawala sana. Mencari bayangan anaknya di sana. Tersenyum membayangkan anaknya datang untuknya, mungkin sambil membawa baju baru, yang ini sudah mulai rombeng sana sini…

Sambil tetap berharap anaknya pulang…

Menanti anaknya pulang…

           

            Asti menegarkan kepalanya. Asti menetapkan hatinya. Surat di tangannya tergenggam erat. Adjie, apapun yang terjadi, memang dialah yang selama ini telah mengisi hatinya. Walau saat pernikahannya dulupun, tetap Adjie yang ada di hatinya. Dan sekarangpun, saat hakim mengabulkan gugatan cerainya dengan Mas Hendra, tak ada yang bisa menggantikan Adjie di hatinya.

 

            Surat ditangannya adalah piutang yang harus di bayar.

Adjie yang menulis untuknya.

            Adjie kecelakaan saat perjalanannya ke Jambi. Urusan pekerjaan.

            Pesawat yang ditumpanginya jatuh di Batang Hari. Adjie opname di ICU selama tiga minggu. Adjie meninggal beberapa menit setelah surat untuk Asti selesai ditulisnya.

 

            Adjie adalah cinta sejatinya. Adjie bukan orang lain baginya. Adjie-lah yang selama ini selalu menghidupkan semangatnya. Adjie yang menyarankan menerima pinangan Mas Hendra. Satu-satunya jalan untuk sukses. Mas Hendra seorang General Manager Perusahaan Minyak dari Inggris. Adjie yang mengajarinya untuk mencintai Mas Hendra. Dan Adjie juga yang mengajarinya untuk mencintai Adjie dengan caranya sendiri.  

           

Empat puluh tahun bukan umur yang sedikit lagi. Tapi begitu banyak keputusan yang harus Asti ambil untuk melunasi hutangnya tahun-tahun lalu. Perkawinannya dengan Mas Hendra membawanya ke karier yang tinggi. Saat itu pula Asti kehilangan Adjie untuk selamanya, menceraikan Mas Hendra, meninggalkan anak-anaknya dalam ijin pengasuhan Mas Hendra, meninggalkan karier cemerlangnya dan hidupnya yang nyaman. Asti harus mengunjungi kaki Lawu, entah sampai kapan. Membayar hutangnya.

 

            Mirah keriput dan tua. Sisa-sisa kecantikannya terkubur dalam kulit kendur dan hitamnya. Kurus dan tua. Dia tersenyum dalam tidurnya. Senyum dalam harapan anaknya pulang…

 

            Tadi siang dia berlari menyambut sebuah bayangan datang. Bukan bayangan anaknya. Tapi dia yakin itu bayangan anaknya. Yang akan datang untuk memasangkan listrik di gubugnya, biar terang.

            Napas tersengal dan kaki terjungkal-jungkal. Mirah terjerungkup ke jurang.

            Orang-orang menemukannya sekarat sambil memanggil nama Adjie….

 

            Asti kaget, keramaian yang terjadi saat kedatangannya kemarin ternyata adalah kematian Mirah, ibu Adjie. Asti terlambat…

 

            Tak ada tangis Asti untuk Mirah. Tak ada yang perlu ditangisi. Toh tak pernah dikenalnya sosok Mirah. Tak pernah, sekalipun dalam cerita Adjie. Tapi dukanya selalu ada untuk Adjie. Digenggamnya surat Adjie erat. Dadanya sesak.

            Asti tak peduli apa kata orang. Mungkin dia seorang perempuan busuk. Menikahi lelaki karena kepentingan karir. Sekaligus memupuk cinta seorang sahabatnya, seorang jejaka tua untuk pelarian perasaannya. Asti seorang Ibu tak tau diri yang meninggalkan anak gadisnya dalam pergaulan Metropolis tanpa pengawasan, hanya bekal harta.

            Asti semakin sesak. Surat itu takkan pernah bersambut…

 

Untuk Asti tersayang…

Maka ketika cinta tak boleh bersatu, hanya ada percaya, Terbaik untukmu adalah terbaik untukku…

Aku tau kita saling sayang, lebih dari apapun…

Tapi aku bukanlah siapa,Tak ada yang bisa aku berikan selain semangat untukmu,

Bila suatu saat aku pergi,Aku ingin kamu tau hanya ada dua wanita yang kucintai,

Ibuku dan Kamu,

Ibuku kutinggalkan didesa, dia bukan wanita anggun seperti ibumu, Ibuku cuma buruh tani, hamil tanpa ada yang tahu siapa yang menghamilinya,Ibukupun tak pernah mau bilang apapun tentang Bapak. Apapun. Dulu kupikir apalah dia. Dulu kupikir untuk apa kuhargai dia. Tapi setahun lalu aku kunjungi desaku. Banyak yang sudah tak kukenali lagi. Tapi saat itu ada seorang perempuan tua berjalan dengan membawa plastik es teh di tangan. Dan aku tau itu Ibuku. Saat itu dia tersenyum padaku, sambil menunjukkan telunjuknya kearahku. Dia bilang, “Anakku bukan?”. Hampir aku mengiyakannya, tapi orang-orang disekitarku mengusirnya. Mereka bercerita, bahwa memang wanita itu setengah gila karena punya anak gelap yang minggat. Ingin aku saat itu juga menangis di kakinya. Kamu tau As? Dia jalan tanpa alas kaki, kakinya pecah-pecah, kulitnya keriput, hitam, kainnya benar-benar sudah pudar, dan bajunya entah sudah berapa tisikan kasar. Ingin rasanya aku mati di kakinya. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakannya. Aku tau aku salah As. Tapi aku tak pernah bisa punya muka untuk bersujud di kakinya. As, tolong aku. Apapun, tolong aku sekali ini.. Kumohon…

 

Asti kehilangan segalanya saat dia memiliki segalanya. Asti memilih tinggal di desa itu. Sesekali mantan suaminya datang bersama anak tunggalnya untuk menjenguk ataupun sekedar berlibur. Tapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk Asti kembali ke kehidupannya semula.

 

Hendra masih tetap dengan cintanya pada Asti. Membujuknya untuk rujuk, bahkan sampai sesaat sebelum Hendra hilang di rimba Papua.

 

Wening, anak semata wayangnya dapat banyak warisan dari Papanya dan tinggal di Houston sekaligus mengurus pekerjaannya. Wening cerdas, karirnya di bisnis perminyakan melesat tinggi. Karir Wening secemerlang karir Asti dan Hendra dulu, bahkan lebih. Kadang Wening pulang ke Indonesia untuk ini itu, tapi tak pernah sekalipun mengunjunginya. Hanya menelepon untuk meminta maaf tidak dapat mengunjunginya.

 

            Maka kematianlah yang ditunggunya untuk sebuah harapan kosong tentang Adjie dan kebahagiaan. Lawu menjadi saksi Asti menjalani hidupnya. Hingga mati menutupnya.

 

           

           

           

           

 

 

             

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: