just to tell u the untold ones..

Mungkin aku perlu psikiater.
Awalnya, aku pikir ini hanya sebuah fase kembalinya ingatan tentang masa kecil. Kembalinya kenangan-kenangan tentang Simbah Putri dengan senyum hangatnya membangunkan tidurku di pagi yang super dingin, dengan menawarkan beberapa biji Melinjo bakar yg masih hangat diatas sebuah piring kecil. Bakar melinjo adalah salah satu kegiatan kami, aku dan sederet sepupu lainnya, saat berlibur d rumah Simbah Putri. Melinjo dimasukkan ke dalam tungku api sambil d balik2 menunggu kulitnya pecah. Kegiatan ini membantu menghangatkan badan kami di pagi hari. Kegiatan lain favoritku adalah bermain di kebun belakang rumah yang penuh dengan berbagai tanaman buah-buahan. Untuk kami, kebun adalah istana bermain. Kami boleh membuat racing route kami sendiri dan bersepeda sampai kami kecapean. Kami boleh membuat rumah2an dari daun kelapa. Kami boleh minta buah apapun yang ada disitu sebanyak apapun yang kami mau, sebelum dijual ke pedagang yang berdatangan ke kebun Simbah. Kami raja di kebun itu.

Senin,
Pagi ini aroma melinjo bakar membangunkan tidurku. Aku benar2 merasa sedang di rumah simbah dengan lidah dan perut yang siap menerima melinjo bakar hangat.

Aku tersadar dari khayalan pagi ini.
Bangun dari tidur dan mulai berbenah memulai aktifitas senin pagi. Dengan bayangan senyum Simbah Putri yang menghampiri sudut meja kerjaku, mengelus rambutku ketika aku menyikatnya di toilet dan menarik ujung ekor rambutku yang sengaja aku biarkan memanjang. Ah, Simbah Putri memang selalu tidak suka ekor rambutku ini. Mirip ekor rambut jin usil katanya. Mirip ekor rambut Lucifer kataku. Dan Simbah Putri akan mengacungkan telunjuk di bibirku. Sssstt…

Sebuah bayangan bergerak pergi menjauh. Aku merasa janggal. Bukan Lucifer.

Selasa
Mimpi kali ini menguras emosi. Lagu Bunga Anggrek terngiang2 di telinga. Simbah Kakung memainkan gitarnya dan menyanyikan dalam bahasa Belanda untukku. Aku merengek2 untuk dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. Syaratnya, aku harus ikut bernyanyi. Tak pernah usai lagu itu kami nyanyikan. Karena air mata haru selalu menggagalkannya.. berkali kami ulang tapi sama saja.
“Kulo kangen simbah”
Simbah Kakung hanya tersenyum dan mencium rambutku.
“Sing mawas diri nduk.. sing pinter2 njaga awak”
Entah suara itu dari mana. Yang aku lihat hanya Simbah Kakung tersenyum dan semakin Samar.
Kajian pagi dan pujian Subuh membangunkanku.

Rabu
Bayangan berkelebat semakin sering. Entah kapan datang, tapi aku menyadarinya hanya saat bayangan itu pergi.
Jelas bukan Lucifer.

Kamis
Aku perlu psikiater.
Aku perlu dokter.
Aku demam.
Kelebat bayangan kembali mengganggu. Aku terganggu.

Jumat
Sedari pagi aku tau Lucifer mengikuti langkah-langkahku. Rambut panjang hitamnya terurai. Ekor rambutnya menjuntai. Raut mukanya yang selalu dinaung duka melengkapi warna hitam jubahnya.
“Siapa dia?” Aku bertanya, hampir berbisik.
“…”
“Luce? ”
Helaan nafas panjang terdengar lembut tapi jelas.
Lucifer membalikkan badan.
“Akan diurus kalau mengganggu”
“Siapa?”
“Anak manusia, mencoba masuk dunia bawah sadarmu”
“Untuk apa? ”
Luce tersenyum tipis lalu menghilang.

Teman khayalan kecilku Ini memang menjengkelkan. Dari dulu hanya menatap dari jauh dalam diamnya. Disaat Kuncung Dan Bawuk, dua penunggu pohon salak pojok belakang rumah Simbah, mengajakku bermain, Luce selalu hanya berdiri mengawasi kami. Tanpa ekspresi.

Tapi hanya dia yang masih sering mengunjungiku sampai sekarang. Sekedar berdiri dalam diam.

Malamnya aku bermimpi Lucifer datang mengajak Kuncung Dan Bawuk. Kami bercanda bercerita sampai larut malam dan tertidur.

Kali ini kelebatan bayangan membangunkan tidurku.

Sabtu
Psikiater hanya tersenyum menyimak ceritaku. Mencoba mengajakku mendeskripsikan ceritaku lebih detail. Termasuk hal hal yang aku rasakan pada setiap tokoh yang hadir dalam ceritaku.
Aku tau, di ujung nanti aku akan merindukan mereka.

Sementara di kejauhan Lucifer tertunduk dalam diamnya. Berlari dan terpejam melesat menembus awan.

Dan sebuah bayangan menatap dalam duka. Membelai lembut serpihan hatinya.
Mencoba menyentuh yang tak tersentuh.
Mencoba mengerti, getar dihatinya takkan pernah tersampaikan..
Mencoba mengerti, di alam bawah sadar pun tak berhak dia mencinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: