just to tell u the untold ones..

02. Kaliadem Kalikuning

Entah berapa kali sudah kaki ini menginjak dataran Kaliadem. Lereng Merapi dengan kelokan raksasa selaksa naga turun dari puncak gunung. Kelokan ini tak lain tak bukan adalah saluran buangan lahar dingin kiriman Merapi. Agar muntahan cair dingin ini tidak menyakiti penduduk sekitar Merapi.

Di sebuah joglo kecil persis di tepi naga itu aku melamun. Tentu mudah bagi Nasirudin untuk lulus sore itu. Ya, bukan hal aneh kalo dia lulus. Tapi toh siapa yang tau kalo bocah nerd itu juga harus melewati peristiwa berdebar2 itu. Hahahaa.. Pelajaran hidup buat si anak cemerlang..

Ku kemasi kopi pahit dan backpackku. Hari ini bukan hari untuk menatap Merapi dan mengagumi celah-celah kawahnya yang terkesan sombong itu. Kawah yang hampir tiap lima tahun sekali selalu memerah merona panas. Merapi memang termasuk salah satu dari beberapa gunung api yang aktif. Material panas dibawanya ini membuat tanah di kawasan lereng gunung merapi menjadi daerah yang subur. Petani di lereng bersyukur, tak sulit bagi mereka untuk urusan tanam menanam. Pokoknya, istilah Koes Plus sih, Tombak Kayu dan Batu jadi tanaman. Tapi bagai peribahasa “There’s no free lunch”, dibalik kesuburannya, mengintai pula bahaya yang tak pernah main-main taruhannya. Waktu itu tahun 1996, ketika Merapi meniupkan Wedhus Gembel, sebutan akrab para pengamat Merapi untuk menamai sejumlah gulungan awan panas. Yang sangat panas. Sangat amat panas. Sehingga saat awan itu menggulung gulung datang, akan tampak oleh mata kita, percikan berwarna merah yang ikut menggelinding di bagian bawahnya. Batuan kecil yang ikut terpanggang awan ini, berubah menjadi pletikan pletikan merah yang berloncatan. Indah. Bagai kembangapi di dalam gulungan asap. Kalau kita melihatnya dari jauh. Tapi barangsiapa mau mendekat sedikiiit saja. Jangan pernah berharap bisa menahan panasnya. Pating clekit, orang jawa bilang. Atau malah pating clekot? Dan  kulit ini pun akan melepuh berdecitan meletup. Aiihhh.. Sudahlah Teman, itu baru panasnya dunia. Bergidik mati gaya lah aku membayangkan neraka. Tak mampu. Tak pernah akan mampu.

Hari ini hari perayaan kecil kecilan kelulusanku, di Kalikuning. Tapi tiap aku mengunjungi Kalikuning, aku pasti mampir untuk sekedar mengunjungi Kaliadem. Untuk sekedar nyambangi puncak Merapi lewat mata dan hati. Menatap puncaknya yang jernih. Lalu menjatuhkan rasa cinta pada hijaunya. Dan menitipkan cita-cita ku di puncaknya. Bukan hanya satu cita-cita. Dua cita-cita. Tiga cita-cita. Ahhh, sebenarnya, tak terhitung cita-cita ku itu Teman. Banyak. Dan Besarrrr tentunya. Berjanji suatu hari akan datang untuk mengambilnya. Hari ini ku ambil satu. Lulus Kuliah.

Berdesir hatiku meninggalkan Kaliadem dan tanah lapangnya yang berangin lembut. Andai tak ada rasa malu, ingin rasanya aku menari nari, menyanyi bak artis india dengan iringan ketipung. Asyikkk Asyiikkkk.. Aku lulussss… ihiiirrrrrrrrrrrr… 

Kalikuning. Kali cetek yang airnya duinginnn minta ampun. Dengan gorong-gorong panjang yang kala tanggal Satu Suro datang, bakal penuh dengan sajen bebungaan dan dupa.

Ya, Kalikuning yang hanya berjarak tak lebih dari 1 Km dari Kaliadem adalah salah satu aliran sungai kecil yang dikeramatkan oleh para penganut kepercayaan kejawen. Padusan, Kungkum dan semedi. Entah apa saja yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan ritual-ritual itu. Itulah Kepercayaan. Percaya.

Pernah kami sedang nge-camp di sungai itu di suatu malam, dan d kagetkan dengan suara gemerisik orang mandi. Lengkap dengan bau bau harum khas hio jawa, asap asap mencurigakan yang mengepul dari suatu tungku mini, wangi melati dan mawar di sela-sela cuping hidung yang kedinginan kami, dan muka mereka yang pucat pasi menahan dingin yang sangat. Malam suro itu, kami melirihkan suara petikan gitar kami. Nyaris tak terdengar. Beberapa dari kami memilih untuk tidur. Dan beberapa lainnya malah asyik menginvestigasi dan menyelidiki kejadian apa yang menimpa malam kalikuning kami.

Nasirudin sudah tampak di depan warung pak Lurah. Dengan senjata segelas kopi panas, dia terlihat sibuk mengusir dingin di tangan dan cuping hidungnya. Cuping hidung akan menjadi bahasan khas kali ini. Karena memang urusan cuping hidung, terutama cuping hidung milik Nasirudin Bandi, pasti akan meninggalkan kesan. Cuping yang tebal, mantap dan penuh itu selalu menjadi ciri khas putra Muara Enim ini. Calon orang kaya. Dan Nasirudin pastinya menjaga hidung kebanggaan dari hawa dingin menggigil lereng merapi. Pendapatnya, perubahan pressure dan temperatur akan merubah komposisi hidungnya. Wajib menjaga.  Agar performance kaya-nya nanti tak terganggu. Salah satunya dengan mengendus-enduskan hidungnya di antara uap kopi panasnya. Aneh.

Kalikuning, ikan bakar dan dingin yang menggigil. Kemudian petikan gitar didiiringi suara senandung sok merdu dari beberapa sahabat. Dan tarian khas api yang menjilat jilat tak keruan saat angin dingin menghembusinya. Menandai kelegaan beberapa pemuda tunas bangsa malam ini. Lulus kuliah. Termasuk aku. Bunda, aku lulus. Aku akhirnya lulus..

Advertisements

Comments on: "E (for Equillibrium) -2nd Chapter-" (15)

  1. so Mbak I, whre is the function of N in this chapter???Anyway, I like the 1st one 🙂

    • snacksore said:

      N (is Normality Factor) itu sebuah Novel.. di chapter 01. Sidang sidang kecil cuma menceritakan saat menjelang yudisium..
      hihihiii..

  2. Mbak I pasti menyuruh kiki baca.. hehe..
    I like the second one much more.. Bagus mbak.. terusin..

  3. Lumayan…

    Tulis terus, jangan lelah…

  4. abisin dulu tuh baca Killing the MockingBirdnya…baru baca yang berikutnya :P. Biar q duluan aja yang baca neng…hehehe (hunting MODE ON)

  5. sorry mbak I, salah comment…hehe…hapus aja

  6. jenk…. hihih
    nge-camp (ditulis pake huruf miring, khan pake bahasa asing).
    Ato pake kata -berkemah- aja hehehhehe.

    🙂

  7. mana tulisan nyang laennya neh?

    jangan terlalu mengakomodir kritik….
    tulis aja…

    • astie astie said:

      itu chapter II di buat sebelum kritiknya masuk kok i..
      gimana, tahun 2015 kita buat buku bareng yuk?
      the double i atau apa judulnya?
      tulisan i mana nih?

      *tentunya akan terus menulis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: