just to tell u the untold ones..

Archive for January, 2010

E (for Equillibrium) -2nd Chapter-

02. Kaliadem Kalikuning

Entah berapa kali sudah kaki ini menginjak dataran Kaliadem. Lereng Merapi dengan kelokan raksasa selaksa naga turun dari puncak gunung. Kelokan ini tak lain tak bukan adalah saluran buangan lahar dingin kiriman Merapi. Agar muntahan cair dingin ini tidak menyakiti penduduk sekitar Merapi.

Di sebuah joglo kecil persis di tepi naga itu aku melamun. Tentu mudah bagi Nasirudin untuk lulus sore itu. Ya, bukan hal aneh kalo dia lulus. Tapi toh siapa yang tau kalo bocah nerd itu juga harus melewati peristiwa berdebar2 itu. Hahahaa.. Pelajaran hidup buat si anak cemerlang..

Ku kemasi kopi pahit dan backpackku. Hari ini bukan hari untuk menatap Merapi dan mengagumi celah-celah kawahnya yang terkesan sombong itu. Kawah yang hampir tiap lima tahun sekali selalu memerah merona panas. Merapi memang termasuk salah satu dari beberapa gunung api yang aktif. Material panas dibawanya ini membuat tanah di kawasan lereng gunung merapi menjadi daerah yang subur. Petani di lereng bersyukur, tak sulit bagi mereka untuk urusan tanam menanam. Pokoknya, istilah Koes Plus sih, Tombak Kayu dan Batu jadi tanaman. Tapi bagai peribahasa “There’s no free lunch”, dibalik kesuburannya, mengintai pula bahaya yang tak pernah main-main taruhannya. Waktu itu tahun 1996, ketika Merapi meniupkan Wedhus Gembel, sebutan akrab para pengamat Merapi untuk menamai sejumlah gulungan awan panas. Yang sangat panas. Sangat amat panas. Sehingga saat awan itu menggulung gulung datang, akan tampak oleh mata kita, percikan berwarna merah yang ikut menggelinding di bagian bawahnya. Batuan kecil yang ikut terpanggang awan ini, berubah menjadi pletikan pletikan merah yang berloncatan. Indah. Bagai kembangapi di dalam gulungan asap. Kalau kita melihatnya dari jauh. Tapi barangsiapa mau mendekat sedikiiit saja. Jangan pernah berharap bisa menahan panasnya. Pating clekit, orang jawa bilang. Atau malah pating clekot? Dan  kulit ini pun akan melepuh berdecitan meletup. Aiihhh.. Sudahlah Teman, itu baru panasnya dunia. Bergidik mati gaya lah aku membayangkan neraka. Tak mampu. Tak pernah akan mampu.

Hari ini hari perayaan kecil kecilan kelulusanku, di Kalikuning. Tapi tiap aku mengunjungi Kalikuning, aku pasti mampir untuk sekedar mengunjungi Kaliadem. Untuk sekedar nyambangi puncak Merapi lewat mata dan hati. Menatap puncaknya yang jernih. Lalu menjatuhkan rasa cinta pada hijaunya. Dan menitipkan cita-cita ku di puncaknya. Bukan hanya satu cita-cita. Dua cita-cita. Tiga cita-cita. Ahhh, sebenarnya, tak terhitung cita-cita ku itu Teman. Banyak. Dan Besarrrr tentunya. Berjanji suatu hari akan datang untuk mengambilnya. Hari ini ku ambil satu. Lulus Kuliah.

Berdesir hatiku meninggalkan Kaliadem dan tanah lapangnya yang berangin lembut. Andai tak ada rasa malu, ingin rasanya aku menari nari, menyanyi bak artis india dengan iringan ketipung. Asyikkk Asyiikkkk.. Aku lulussss… ihiiirrrrrrrrrrrr… 

Kalikuning. Kali cetek yang airnya duinginnn minta ampun. Dengan gorong-gorong panjang yang kala tanggal Satu Suro datang, bakal penuh dengan sajen bebungaan dan dupa.

Ya, Kalikuning yang hanya berjarak tak lebih dari 1 Km dari Kaliadem adalah salah satu aliran sungai kecil yang dikeramatkan oleh para penganut kepercayaan kejawen. Padusan, Kungkum dan semedi. Entah apa saja yang menjadi motivasi mereka untuk melakukan ritual-ritual itu. Itulah Kepercayaan. Percaya.

Pernah kami sedang nge-camp di sungai itu di suatu malam, dan d kagetkan dengan suara gemerisik orang mandi. Lengkap dengan bau bau harum khas hio jawa, asap asap mencurigakan yang mengepul dari suatu tungku mini, wangi melati dan mawar di sela-sela cuping hidung yang kedinginan kami, dan muka mereka yang pucat pasi menahan dingin yang sangat. Malam suro itu, kami melirihkan suara petikan gitar kami. Nyaris tak terdengar. Beberapa dari kami memilih untuk tidur. Dan beberapa lainnya malah asyik menginvestigasi dan menyelidiki kejadian apa yang menimpa malam kalikuning kami.

Nasirudin sudah tampak di depan warung pak Lurah. Dengan senjata segelas kopi panas, dia terlihat sibuk mengusir dingin di tangan dan cuping hidungnya. Cuping hidung akan menjadi bahasan khas kali ini. Karena memang urusan cuping hidung, terutama cuping hidung milik Nasirudin Bandi, pasti akan meninggalkan kesan. Cuping yang tebal, mantap dan penuh itu selalu menjadi ciri khas putra Muara Enim ini. Calon orang kaya. Dan Nasirudin pastinya menjaga hidung kebanggaan dari hawa dingin menggigil lereng merapi. Pendapatnya, perubahan pressure dan temperatur akan merubah komposisi hidungnya. Wajib menjaga.  Agar performance kaya-nya nanti tak terganggu. Salah satunya dengan mengendus-enduskan hidungnya di antara uap kopi panasnya. Aneh.

Kalikuning, ikan bakar dan dingin yang menggigil. Kemudian petikan gitar didiiringi suara senandung sok merdu dari beberapa sahabat. Dan tarian khas api yang menjilat jilat tak keruan saat angin dingin menghembusinya. Menandai kelegaan beberapa pemuda tunas bangsa malam ini. Lulus kuliah. Termasuk aku. Bunda, aku lulus. Aku akhirnya lulus..

E (for Equilibrium)

01. Sidang Sidang Kecil

Ruang sidang di lantai tiga gedung angkuh itu masih menampakkan kesan dinginnya. Dinding-dinding yang tegak berdiri membuat para mahasiswa yang sedang berharap-harap cemas semakin miris teriris-iris. Hari ini dinding-dinding bisu menjadi saksi betapa perjuangan panjang seorang mahasiswa pintar, assisten teladan, ahli beasiswa kampus, karena dia telah menaklukan hampir semua ujian penerimaan beasiswa. Telah roboh hancur berkeping-keping hanya karena kebodohannya sesaat di ruang sidang. Dia lupa Rumus Darcy. Entah apa yang ada di otaknya saat itu. Mulutnya terkunci rapat, pun otaknya serasa berhenti bekerja. Benar-benar berhenti bekerja bagai buruh pabrik yang sudah tiga bulan gajinya tak dibayarkan lalu demo massal. Bagaikan bekicot disawah yang tak sengaja tersampar kaki petani lalu si bekicot mengkerut masuk ke kandangnya, ngambek gak mau muncul-muncul lagi.

Ah teman, rumus Darcy ini bukan barang baru untuknya. Bagi Nasirudin Bandi, rumus ini bagai sahabat karib saja. Bekal dasar saat dia menganalisa suatu pergerakan fluida di sebuah batuan yang berrongga lalu memaparkan analisa-analisa. Semua persamaan njlimet yang telah di bahas di dunia perminyakan, sebagian besar hanya turunan dari rumus ini. Adalah kewajiban bagi seorang mahasiswa jurusan perminyakan untuk menjiwai rumus ini. Tapi pagi tadi, Nasirudin malang belajar tentang satu hal. Sahabat karibpun ternyata mampu berkhianat. Peluh membanjir semakin deras tatkala ingatannya melayang ke kejadian ufuk tadi. Nasirudin tidak sholat subuh. Dia lebih memilih berkutat dengan tumpukan Tugas Akhirnya. Tolol, umpatnya menyesali kedunguannya tadi pagi.

Raut muka kecewa pembimbingnya, gebrakan tangan pengujinya keatas meja membuat nyalinya makin ciut bak bekicot tadi. Tangannya bagai terserang Parkinson, gemetar tak karuan, bervibrasi tak terarah dan tak perlu perintah. Spontanitas jemari yang tak diinginkannya semakin mempersulitnya untuk membuka slide-slidepresentasinya, sekedar untuk mencari beberapa turunan persamaan yang mungkin bisa membantunya sedikit mengingat rumus itu.

Tolol, dungu, bodoh. Malu rasanya kalau harus meminta Tuhan mengembalikan sedikiiiit saja ingatan tentang rumus dasar itu. Ya Tuhan, memang hambaMu ini tempat merugi.. Astaghfirullaah.. Pucat. Pasi. 

“Udin, Tuhan takkan berkhianat. Tidak akan. Laa khaula walaa quwatta illa billah..” sayup-sayup suara mamaknya menggema-gema di kupingnya yang lebar berkibar bak bendera perdamaian yang sering di bawa-bawa team IRC.

“Laa khaula walaa quwatta illa billaah..” bisik Udin. Ditariknya nafas panjang pasrah..

Then, it will come when u least expect it..

 BYARRRRRR… Goa gelap otaknya tiba2 penuh dengan lampu petromaks. Bagai neon 10 watt di ruang belajar kecil ukuran 2×3 meter. TERANG sudah semua jejalan tak keruan yang membekukan neuron otaknya. terasa darah hangat mengalir di urat-urat pipinya. muka pucatnya pun telah berganti memerah. matanya kembali bersinar-sinar. Entah bagaimana, rumus sialan yang tadi ngumpet entah dimana itu tiba-tiba bercongol tersenyum-senyum riang menari nari nakal di benaknya. Siap Pak, saya ingat.

Nasirudin belajar lagi tentang Tuhan, Dia tak pernah berkhianat.

Gamblang diterangkannya rumus dasar itu, sampai ke penyelesaian masalah dari Tugas Akhirnya. Ahh Teman, Benar adanya, Tuhan tak pernah berkhianat.. Dia-pun Maha Pemaaf.. Terima kasih mamak, jerit Nasirudin dalam hati. Tuhan Engkau memang Maha Kuasa.

Sudah terasa manis, hasil yudisium sore ini. Ingin Nasirudin segera mencicipnya. Pasti manis bak Teh yang dihidangkan orang Jawa di ruang tamunya. Gulanya separuh gelas.

Tag Cloud