just to tell u the untold ones..

000. SWEET CINNAMON

Sweet Cinnamon

 

 

Raga-raga yang berkelana tanpa jiwa

Hanyalah jasad yang teronggok didunia,

Jiwa-jiwa yang berkelana tanpa raga

Hanyalah jiwa yang terombang ambing didunia,

 

Dengarlah…

Wahai nada-nada yang terurai dengan lembut

Yang masuk merasuk dalam raga yang fana

Dengarlah bisik hati yang ingin bernyanyi, aku  hanya bisa menangis

Karena lantunan hati tak kunjung terlukis

 

Hati yang tenang dan jiwa yang muram

Kembalilah membelai nurani yang mulai terbang

 

Sayup suara desir daun, pohonpun tertunduk anggun

Buih berlarian mencium pasir, Dan langit biru pun  membuat getir

 

Maka jika masalalu kembali membayang

Menolehlah barang sesaat

Tersenyumlah barang sejenak

Dan kembalilah berjalan,

Terus berjalan,

Karena sesungguhnya, waktu  takkan kembali

 

 

 

 

 

Kafe Cinnamon

 

 

Masih di senja yang basah karena hujan,

Dari balik jendela ku menerawang,

Tak ada celah..

Hanya ada awan tebal menutup langit.

Tak ada celah..

Dan hanya ada awan hitam menutup bulan dan bintang penghias malam.

Kelam.

 

Aku terdiam.

 

Jiwa yang sama, kemanakah engkau sekarang? Akankah engkau kembali menemukanku dan kita bernyanyi bersama lagi. Lagu tentang perjalanan kita yang tak semua orang memahaminya.

 

Kafe Cinnamon tampak makin berwarna dengan tingkahan piano Bonni, sahabat kuliahku.

Kenangan masa kuliah semakin jelas di mata. Indah. Dan hanya indah yang terkenang di ingatanku.

 

Aku bukanlah mahasiswi yang cemerlang, aku hanya berusaha semampuku. Menuntaskan tanggungjawab dan menikmati sisa waktuku untuk semakin dekat dengan alam.

 

’Mana yang lebih menarik? berjalan dibawah hujan, berlari kencang atau jalan kaki  jauh?’

Dan aku memilih the last one, kalau waktuku cukup. Karena perjalanan jauh juga membutuhkan waktu yang lebih lama biasanya.

 

Namun kadangkala, saat aku benar2 underpressure dan tak cukup banyak waktu untuk jalan kaki jauuuuhh.. aku pilih berlari kencang di sore hari.

 

Atau kala hujan turun dan aku punya cukup waktu untuk menikmatinya, tak segan aku turun ke jalanan untuk menikmati berkah Tuhan dari langit itu.

 

Basah, liar dan bahagia.

 

Betapa waktu terus berlari tanpa henti dan semua tinggal kenangan. Rangkaian kata takkan pernah mampu membuat indahnya rahmat Tuhan tertulis. Senyum bahagiapun takkan pernah menggambarkan riang nikmat Tuhan yang kurasakan.

 

Kulihat sahabat-sahabatku ikut tersenyum dan mengulurkan tangan-tangan halus mereka untuk mengucapkan selamat.. sedikit nyeri saat ku tersadar, tak tergapai. Tapi bukan itu, bukan tangan halus itu. Senyum merekalah penawar semua luka, senyum bahagia merekalah yang selalu membuatku kembali bersemangat.

 

Luce masih dengan seragam hitam kelamnya, rambut panjang terurai dan senyum yang aneh, menurut beberapa orang. Tapi itulah senyum termanisnya, yang sering ada untukku.

 

Sahabatku yang pendiam itu lebih memilih untuk jarang bicara dan sering menyendiri. Entah apa yang dipikirkannya saat dia asyik menikmati sendirinya itu. Mungkin hujan hari ini lah yang dipikirkannya, atau memang begitulah dia. Yah, aku lebih memilih untuk memahaminya sebagai ’begitulah dia’.

 

My Luce, sahabat sejak aku duduk di kelas dua SMA. Kadang dia mengunjungiku di saat-saat yang tak pernah bisa ku tebak.

 

Yah, begitulah dia..

 

Luce tampak berdiri di sebelah piano, dan Bonni tetap memainkan jari-jarinya, menciptakan denting indah tentang hujan rintik dan malam ini.

 

Kulihat Frappucinno pesanan Gamma datang. A Frozen Cappucinno. Menu yang pastinya gak akan ku pesan untuk menemani malam ku yang dingin dan hujan ini.

 

Gamma, sahabatku sejak SMA.

Putih, tinggi dan tenang.

Dengan jas hitam dan kemeja putih, tampak semakin dewasa. Walau pesanannya emang extraordinary untuk malam dingin dan hujan.

 

’masih suka menulis rupanya?’ sapanya sambil mejatuhkan pandangan ke hasil ketikanku di monitor notebook dihadapanku.

’yup..’, senyumku mengembang.

’apa kabar Oddy?’ tanyaku, ’kemana dia?’

‘he’s good, lagi kerumah mamanya, kangen.’

’ouww.. so sweet kakakku satu itu’

‘he’s a goodson, dan gak ingin menyiakan setiap kesempatan untuk bertemu keluarganya’

‘dan kamu?’

‘barusan balik dari rumah. Mamaku cantik sekali sore tadi. Kapan-kapan main aja kerumah yah? Temani dia’

’okay..’

’promise me?’

’okay..! i promise u..’

‘thanx sweetie..’

‘u’re my bro.. what else?’

‘what?’

‘pesan untuk mama atau papa?’

’nope.. pastikan mereka baik-baik saja, itu cukup untukku’

’okay..i promise u hun..’

 

’Oddy Andiono??’, sebuah suara bass terdengar dari belakang telingaku.

’Yupz..’ jawabku sambil membalikan badan.

’Kenal baik?’

’Cukup baik, dia sering main ke rumah kalau bulan penuh dan laut pasang’, senyumku mengembang melihat si penanya.

’Dasar penulis, pandai benar berkata-kata’

’Haha.. asal bukan untuk mengata-ngatai kan?’

’Bisa saja’

’Apa kabar Ko? Kenalin, ini Gamma, sahabat SMA ku. Ini Eko, sahabat SD ku’

’Kabar? Semua baik, semakin kunikmati kebesaran Tuhan di tiap kejadian yang kurasakan’, jawabnya seraya menjulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada Gamma.

’Gamma. Kenal baik dengan Oddy?’

’Cukup baik. Kami sering bertemu di Kafe ini. Motorbiker yah?’

’Was. He was..’

 

… sejenak semua membisu..

 

’Bonni, malam ini dia mainkan piano dengan hatinya’ kataku mencairkan suasana, sebelum waktu mampu melelehkan setumpuk air hangat dipelupuk mata.

’Karena ada tamu istimewa tentunya, senang lihat kamu disini Ayu’, Eko tersenyum.

’Ya, senang sekali kamu hadir disini’ tambah Gamma.

’Thanx.., aku juga senang kalian ada di sini. Mana yang lain? Sepertinya masih sepi yah?’

’Tunggu aja, mungkin saat hujan mereda, mereka mulai berdatangan.’

’Hujan mulai merintik, dan sepertinya awan menipis’

’Semoga bukan berarti kamu juga harus pulang kan?’

’Tenang, aku masih harus menunggu fajar datang sebelum aku pulang. Lihat Luce kan? Dia masih asyik menikmati lagu Bonni. Lagipula Edja juga belum datang.’

’Luce? Dia selalu aneh..’

’Yah, begitulah dia..’

’Lalu Edja?’

’Oiya, kalian belum kenal? Edja, sahabatku kuliah dulu.’

’Kuliah?’

’Kuliah, benar-benar kuliah.’

’Dan Bonni?’

’Bonni ku kenal di kampus, tapi dia gak pernah ikut kuliah kan?’

’Oh, jadi Edja benar-benar teman kampus, teman kuliah?’

’Yupz, waktu di jogja dulu. Anak Magelang, teman kampus, teman naik gunung, teman berbagi arbei liar.. How life is so beautifull yah..?’

’Apalagi saat seperti sekarang, saat sulit sekali untuk bisa bertemu dan berbagi’

’Semakin kita bisa menghargai tiap kesempatan yang ada bersama orang-orang terdekat kita’

 

Kembali kami terjebak dalam keadaan hening.

..

Kami terdiam.

 

Pengalaman hidup memang semakin membuat kami menghargai waktu yang masih ada dan tersisa.

 

Terutama untuk Aku.

 

’okay, kami pamit dulu. Mungkin ada baiknya kamu punya waktu sendiri untuk selesaikan tulisanmu kan?’, senyum Gamma mengembang.

’Bye sweetheart..’

 

Dua sahabat ku itu melangkah menuju meja piano dan meningkahi dentingan jemari Bonni..

 

Bungapun tetap menari dengan caranya ketika badai menghantam, lalu ia  tertunduk ketika hujan selesai menyapa..

Kelopaknya jatuh satu dan tanah menyambutnya..

Rumput bergoyang menari tarian pelangi.

Bunga terdiam, sakit, mencoba menikmati pelangi dan hangatnya mentari.

Walau sebenarnya dia tetap rindu, untuk  badai hadir kembali.

 

Beberapa senyuman dan catatan di kepala teringat jelas tanpa cela.

Pelukan hangat dari Gamma, Eko, Edja, Eyang Uti, Pak Wishnu, Mas Oddy dan beberapa nama lainnya masih terasa hangat dan melegakan. Membuatku semakin rindu akan waktu-waktu lalu saat mereka benar-benar bisa kupeluk dan ku cium.

Tapi ini cukuplah bagiku.

 

Aku menatap ujung lembayung yang mulai menjadi jingga. Pertanda mentari mulai untuk menyapa..

 

Adzan berkumandang, menyayat jiwa-jiwa yang rindu kesejukan, untuk memenuhi panggilanNya.

 

Maka bangunlah wahai raga yang tak terjaga, karena inilah saatnya engkau menghadapNya..

 

Aku kembali tersenyum melihat warna-warna yang mulai kabur.. Ingatan ini masih sangat jelas. Kehadiran mereka seakan menghapus kerinduan hatiku pada mereka..

 

Aku mensyukurinya.

 

Walau entah kapan lagi aku bisa bertemu dengan mereka.

 

Kafe Cinnamon semakin lengang setelah semua yang hadir malam itu berpamitan.

Mereka, senyum, cerita dan pelukan.

Menghangatkan.

Dan air mataku mulai mengalir membasahi pipi.

 

I love u all..

 

Doaku untuk kalian.

 

Thanks GOD, U are The Greatest n The Mercifull..

 

Semoga semua pesan dapat kusampaikan.

 

Amien.

 

Dan aku kembali terlelap dalam tidurku.

Badanku pegal, keningku panas.

Aku demam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mr. Lucifer

 

 

’Bunga Favorite?’ tanya Ricco.

’Aster Kuning’

’Harus Kuning?’

’Iya’

’Harus Aster?’

’Boleh Anggrek atau apapun. Asal Kuning. Tapi Aster Kuning tetap prioritas’

’Kenapa Aster Kuning?’

Aku tersenyum. Melangkahkan kaki menjauhi Ricco.

 

Pria istimewa itu tiba-tiba hadir di setiap sudut otak dan hatiku.

Bukan ini yang kucari.

Ketika hati harus bertahan dan setia.

Bukan cinta yang ku cari.

Ketika Dimas yang jauh semakin jarang menghubungi.

Ketika setiap pesan yang ku kirim selalu tanpa balasan.

Ketika setiap dering yang kunanti tak pernah bersambut.

 

Tapi pria ini menatapku dengan matanya yang hitam tajam dan melambungkan anganku.

Gila.

Aku benar-benar Gila kalau sampai aku jatuh hati padanya.

 

Ah sudahlah.

Tak perlu panjangkan hal yang seharusnya tak pernah panjang.

Masih banyak pesan yang harus ku sampaikan.

Aduuuh gimana caranya agar pesan-pesan ini nggak menimbulkan kegelisahan bagi yang menerima.

Setidaknya, tidak menimbulkan banyak pertanyaan untukku.

 

Entahlah..

 

Lebih baik pikirkan baik-baik point per-point.

Pesan per-pesan.

Lalu caranya.. baiknya gimana yah??

 

Malam di kafe Cinnamon, selalu membuatku berpikir keras di pagi harinya.

  

Tirai kantor yang separuh tertutup membuatku lebih nyaman untuk mengerjakan banyak hal. Rutinitas pantauan produksi dan optimasi lifting udah selesai. Meeting Bioenzyme dan meeting pre-Fracturing baru akan dilakukan setelah break Lunch. Uff.. Rehat sebentar mungkin akan membuat segalanya jauh lebih baik.

Kopi?

Ya, ide bagus, kopi mungkin bisa mengurangi penatku pagi ini.

Tapi langkahku terhenti oleh sekelebat bayangan di sisi tirai yang tertutup.

Hitam. Tinggi. Rambut panjang.

Siapa lagi?

Luce.

 

’Haii.. morniiing my Luce..’ sapaku sedikit berbisik.

’Apa ada yang tertinggal semalam, sehingga perlu untuk Luce mengunjungiku?’ tanyaku..

Seperti biasa, tersenyum dengan senyum yang mirip seringai kecil, hampir tak terlihat.

Yah, begitulah dia..

‘Kutinggal buat kopi yah.. ngantuk sekali pagi ini.’

‘Baru nanti kita bicara’

Sunyi.

Sambil tersenyum ku tinggalkan Luce di ruang kerjaku.

Secangkir kopi tentu lebih menggoda daripada duduk sambil terdiam memandang si Hitam yang juga akan tetap diam.

Secangkir kopi. Sedikit gula. Aduk. Voila, jadi.

Tapi ketika aku kembali ke ruang kerjaku, Luce lenyap.

Tirai semakin lebar terbuka.

’Dasar gak sabaran. Tunggu bentar kenapa sih?’ sungutku sambil menarik tirai ke posisi semula.

Hening.

Luce benar-benar lenyap.

Dan lagi-lagi..

Yah, begitulah dia..

 

Pagi itu aku datang ke sekolah terlalu pagi. Pukul enam pagi. Bahkan pintu kelaspun masih terkunci. Dengan terpaksa aku ngemper di luar kelas sendiri ketika tiba-tiba pintu kelas terbuka dari dalam. Dan bayangan hitam tinggi angkuh tampak berkelebat keluar lewat jendela. Maling?? Karena setelah itu ku amati tak ada lagi jam dinding kelas kami..

 

Ups..! Aster kuning ada diatas meja kerjaku. Terrangkai rapi dalam vas transparant..

Cantik.

Siapa yang membawakannya untukku?  Ricco? Kapan dia masuk?

Kulihat kelopak bunganya, masih tegar dan segar, warna kuningnya menceriakan suasana ruang kerjaku yang so awfull gara-gara renovasi yang belum kelar.

Lagi-lagi, pria dengan ranjaunya, membuatku harus banyak berpikir ulang tentang suatu hubungan serius.

Ricco, teman lama satu angkatan masuk perusahaan ini. 2 tahun lalu..

Namun baru kusadari kalau perhatiannya lebih dari sekedar seorang yang mengamatiku dari jauh, mencuri-curi fotoku dan tersenyum manis saat kuhampiri.

Kukira dengan penampilan dan wajah goodlookingnya, kecil sekali kemungkinan untuk dia perhatikan aku.

Dunia kami jauh berbeda, dia dari golongan orang-orang kota dengan bahasa lu-gue mereka. Dia dari sebuah institut negeri kebanggaan Indonesia dan selalu mendapat prioritas dari setiap perusahaan, apalagi BUMN, itu yang membuatku sedikit muak akan golongan mereka. Tapi setidaknya kehadiranku mewarnai perusahaan ini memberi sedikit rasa asam diantara yang manis dan memberi sedikit rasa manis dari asamnya mereka. Cause life is so peachy, jadi takkan bosan kita karenanya..

Dan salah satunya adalah cinta. Ini cinta dan aku yakin akan hadirnya.. Tapi.. Sudahlah, aku sendiri bingung musti bagaimana. Kembali membuat segalanya indah atau mengikuti peraturan yang kuyakini dan kupercaya? Keindahan lain yang membuat aku akan mendapatkan keindahan lain yang lebih indah dan lebih segalanya.

Dua hal pasti yang membuatku harus berpikir ulang tentang hubungan seriusku dengan Ricco adalah karena kami berbeda agama, dan kami satu perusahaan.

Di ajaran agamaku, tidak diperbolehkan untuk menikahi seorang penganut agama lain.

Dan di perusahaan tempat kami bekerja, bila terjadi pernikahan antar sesama pekerja, maka salah satunya harus mengundurkan diri alias keluar.

Bagaimana??

Dan kami sebenarnya sangat menyadari keadaan kami.

Sebenarnya..

Walaupun Ricco juga tak bisa berhenti, padahal dia tau, aku juga masih punya Dhimas yang jauh disana.. Yang entah, entah, entah apa kabarnya sekarang..

 

Ku hirup kopi di cangkir yang semakin hilang panasnya..

Life..? Bingungku karenamu..

Sementara hatiku berusaha sekuat tenaga untuk setia, justru Dhimas semakin gak jelas.

Dan Ricco semakin mengerti lemahku tanpa Dhimas.

Matanya yang tajam semakin mampu membuatku tenang dengan kehadirannya.

God Help me, don’t let me fall in love with him..

Karena cinta itu semakin kurasa di dada.

Menceriakan hariku, seperti warna kuning matahari yang hangat menyapaku pagi tadi.

 

Tapi Luce tampak muram saat dengan ceria ku ceritakan tentang Ricco.

Dia hanya tersenyum kecil, menyeringai dan pergi perlahan..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Love Stories

 

Sore yang indah untuk berlari dan berlari, sedikit berkeringat untuk melenyapkan beban pikiran dikepala.

Hari ini hari terakhir untuk Ricco tinggal di kotaku, dia ada di divisi eksplorasi, sehingga dia datang ke kantorku hanya bila ada beberapa hal yang penting yang harus didikusikan langsung.

Kapan lagi dia akan kembali ke kota ini? No one knows, but God..

 

Seharusnya aku bisa sedikit bernafas lega. Tapi kenapa rasa kehilangan malah semakin nyata didepan mata?

Ricco..?

 

Ah, sudahlah, selesaikan dulu track lari sore ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Well, it feels like flapper of a butterfly inside my heart..

 

This morning, I woke up early.

Someone called me lastnight..

Then there’s always a song in my head after..

No one knows, but I know, it’s about love..


There will never come a day
You will ever hear me say
That I want or need to be without you
I want to give my all
Baby just hold me
Simply control me
Because your arms they keep away the lonelies
When I look into your eyes
Then I realize
All I need is you in my life
All I need is you in my life
Cuz I never felt this way about lovin
No
Never felt so good baby
Never felt this way about lovin
It feels so good

 

A song by Alicia Keys. And I hate it, cause I can’t stop it.

I just realize, I love him.

Ricco??

No, not him.

It’s about Danny.

We broke up last month. He called me lastnight, he said he just wanna say hello.. but I feel something strange that I can’t understand..

 

It feels like flapper of a butterfly inside my heart..

 

I don’t know, what is this..

Let’s forget it all, he’s not mine for more..

 

Tickle Tick my clock tick tick,

Listen listen cause I’m sick..

My heart is singing la la la..

A song of bla bla bla..

Then,

I love Ricco in my last evening,

And,

I love my Danny in this sweetmorning..

In a blink..

In a blink..

In a blink.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Then I Found My Self.. Empty

 

 

Berjalan menyusuri kota kecil kadang bisa membuatku semakin mengerti satu dan dua hal penting dalam hidup.

Kakiku terhenti di depan kerumunan penjual di pasar. Aroma khas pasar tradisional. Ikan, sayur dan bumbu-bumbu bercampur aduk dengan riuhnya transaksi.

 

Seorang ibu tua dengan panggulan dagangan di punggungnya tampak kepayahan menahan beban. Keringat yang menetes dari dagunya yang keriput itu mengingatkanku pada pemandangan kaki Merapi yang dulu sering aku nikmati. Keringat itu jarang menetes di sana, karena dinginnya alam.

 

Namun bukan berarti tak ada sosok renta dengan panggulan berat di punggungnya. Pemandangan seperti itu sering kulihat di kaki merapi, seorang tua dengan beban berat di punggungnya.

 

Beban yang benar2 berat.

Karena dia harus menanggung hidup anak-anaknya. Sementara hatinya selalu memanjatkan doa terindah untuk suaminya di surga..

Bencana ’wedhus Gembel’ Merapi telah memisahkannya dari suaminya.

Pagi celaka itu tak meninggalkan luka sedikitpun di tubuhnya, namun luka dihatinya tetap menganga seakan tak akan pernah sembuh..

Tak pernah lagi ada senyum yang menyapanya di pagi hari, tak ada lagi tumpukan kayu bakar untuknya menanak nasi dan yang paling terasa adalah, tak ada lagi imam dalam sholat-sholatnya.

Betapa dia sangat merindukan saat-saat mencium tangan suaminya setelah sholat.

Subuh pagi itu berlalu begitu saja, seperti biasa. Setelah sarapan, dia pamitan untuk memenuhi undangan seorang sanak yang sukses di daerah Sosro Wijayan. Dia akan pergi bersama dua anaknya. Suaminya mengijinkan dan bahkan sempat memberinya ‘sangu’ untuk bayar angkutan.

 

Hajatan di rumah sanaknya itu ramai dan megah. Banyak sekali makanan yang tersedia. Banyak tamu yang sepertinya dari kalangan kaya. Bahkan ada beberapa yang Bule. Tapi semua tamu-tamu itu laki-laki. Sementara para pegawai sanaknya itu semua perempuan cantik. Sangat cantik. Jauh berbeda dengannya. Hanya cints dari suami setianyalah yang dapat menghibur hatinya yang mengecil di hajatan itu.

 

Tapi belum sempat Adzan Dhuhur berkumandang, kabar duka itu sudah sampai ketelinganya..

 

Suaminya ditemukan tanpa senyum lagi. Bahkan hanya ’arit’ di tangan menjadi pengenal suaminya. Dia ditemukan di sebelah kandang kayu bakarnya. Tergeletak, terbakar dan tak dapat dikenali.

Bahkan hampir tak ada alasan baginya untuk bersedih, karena suaminya tetap hidup di hati.

 

.. Ingkang Kuwaos nyuwun panjenengan jumeneng wonten ndalemipun..

 

Tapi kenyataan hidup membuatnya semakin percaya bahwa suaminya sudah tak lagi ada disisinya. Kelaparan membuatnya percaya tak ada lagi naungan untuknya bersama menahan perih di perut.

 

…kulo ndherek Ingkang Kuwaos kemawon..

 

Dan saat matanya kembali menatap dua anaknya dirumah, hatinya semakin tersayat.

Titipan suaminya itu tumbuh menjadi dua preman di kampungnya. Kenyataan hidupnya yang jauh dari kemapanan, membuat mereka semakin bermimpi untuk menikmati dunia dengan banyak cara, dengan segala cara.

Semua orang tau itu.

”Kasihan Mbok Rujiyem, anaknya bajingan”

Dan dia hanya menghela napas panjang.. kembali berdoa untuk suaminya..

 

…kulo ngentosi wekdalipun kulo nusul panjenengan..

Lak panjenengan taksih ngentosi kulo to Kangmas..?

 

Kadang senyumnya muncul saat keyakinan dihatinya menguat, pasti akan datang padanya saat-saat dia kembali bersama suaminya.

 

See the pyramids along the nile
Watch the sunrise on a tropic isle
Just remember, darling, all the while
You belong to me

See the marketplace in old algiers
Send me photographs and souvenirs
Just remember when a dream appears
You belong to me

I’ll be so alone without you
Maybe you’ll be lonesome too, and blue
Fly the ocean in a silver plane
See the jungle when it’s wet with rain
Just remember ’til you’re home again
You belong to me

I’ll be so alone without you
Maybe you’ll be lonesome too, and blue
Fly the ocean in a silver plane
See the jungle when it’s wet with rain
Just remember ’til you’re home again
You belong to me

 

 

 

Aku hanya bisa menarik nafas panjang.. U Belong To Me, by Lighthouse sepertinya sedikit mewakili untaian rasa dihati mereka..

Betapa indahnya saling memiliki..

Dan hatiku pun tersenyum mendamba memiliki rasa yang indah itu.

Tapi tiba-tiba terselip miris bila mengingat fakta..

Betapa kerinduan dua dunia bukanlah hal yang mudah untuk diselesaikan.

 

Entah apa yang ada di otak Mbok Rujiyem. Toh suaminya sudah meninggal..

Karena Manusia hidup, dan hanya hidup sampai mati memutuskannya. Kecuali disisakannya tiga perkara, amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.

 

Ah.. sudahlah.. kita tinggalkan Mbok Rujiyem dengan pengabdian cintanya yang mengharu biru itu.. Dan kita kembali ke Kota kecil tempatku terdampar mencari sesuap penyambung hidup ini..

 

Pasar ini begitu riuhnya, Pasar Prabumulih. Pusat perbelanjaan. Pusat nafkah dan pusat urusan perut warga kota. Sekaligus pusat bandit lokal.

Perbandingan penghasilan penduduk asli dengan pedatangnya adalah jawaban dari pertanyaan klasik, apa penyebab besarnya angka kriminalitas di kota ini.

Seloroh lokal Sumatera mengatakan Plat BG yang menjadi penanda kendaraan di sumatera selatan ini berasal dari kata Bandar Garong. Well, faktanya? Who knows? Karena ternyata cukup relevan dengan keadaan wilayah yang memiliki angka kriminalitas yang cukup menarik perhatian aparat.

 

Begitulah fenomena umum di kota-kota remote yang memiliki kekayaan alam didalamnya. Kecemburuan sosial.

 

Ujung mataku menangkap hal lain dari suatu gerakan yang sangat lembut tak tertangkap oleh penduduk yang sedang sibuk dengan belanjaan mereka. Hatiku bertanya ’ada kah sesuatu yang tak beres adanya?’

 

Mata itu mencurigakan.

Mungkin benar-benar tak ada diantara penduduk itu yang menyadarinya.

Mataku mengingatkan mata mencurigakan itu, bibirku terkatup erat.

Dan ..

Benar, dalam waktu yang singkat, dompet coklat tua berpindah tangan.

Ingatkah kata Dosa? Jerit hatiku..

Namun tak lama, ah malang memang tak bisa dielak.

 

Copet itu tergeletak dipinggiran pasar setelah orang-orang pasar menggebukinya.

 

Darahnya masih menetes, dan lukanya tampak kotor terkena beceknya pasar. Ya ya, dia tersungkur di tumpukan sampah sayur busuk afkiran pedagang setempat.

 

Matanya kembali menangkap mataku, aku hanya bisa mengalihkan pandanganku. Berpura-pura memilih sardin kalengan. Ya, gara-gara membuang muka dari si copet, tiba-tiba aku bisa dengan cepat memutuskan untuk memasak nasi goreng sardin sebagai menu makan malamku kali ini.

 

Kulirik mata itu.. Syiall, kenapa disaat begini rasa ini muncul..!

Aku melihatnya.

Dan mata itu sepertinya masih lapar, selapar perutnya..

Aku melihatnya.

Ya, aku melihatnya.

Istri yang menunggu dengan kompor tanpa bahan masakan dan bahan bakar.

Anak kecilnya yang diare dan kurus.

Mereka di rumah kayu yang penuh debu di pinggiran kota..

Tanpa fasilitas memadai. WC yang masih menebeng tetangganya.

Ah, aku benci ini. Sisi diriku yang lemah mulai muncul.

Sudahlah, toh ini juga karena aku melihatnya.

Dengan sedikit senyum, kuulurkan bungkusan belanjaanku.

Cukuplah untuk dia dan keluarga kecilnya bertahan hidup beberapa hari ini.

Dia menerima uluranku.

’aku sudah mengingatkan mu tadi’ bisikku dalam hati.

’aku bukan hati kecil, tapi aku punya sedikit suara yang bisa kuucapkan saat itu’

’Tapi kamu menulikan telinga hatimu dari perkataanku’

’Bahkan kamu mengusirku’

Mata itu menunduk menatap lembam di tubuhnya. Lebam yang berarti kelaparan untuk keluarga kecilnya di dalam gubuk kecil itu.

Ah, rasakanlah juga akibatnya. Lebam itu harus bisa membuatmu jera. Agar tak lagi menafkahi keluarganya dengan cara begitu. Ah, rasakanlah lukamu itu.

Copet tetaplah copet.

Aturan adalah aturan.

Berusahalah hidup dan wajib berusahalah untuk tetap hidup, dengan jalan yang semestinya.

Dengar, bukan dalih yang akan bicara nantinya..

Apakah ini adalah benar atau atau ini adalah salah..

Walau Tuhan yang akan menentukan mana istana kita, Surga atau Neraka..

Tapi jalankanlah syariatNya, maka akan kau temukan indah jalanNya.

 

Ups.. Perutku riang bernyanyi saat sardin dan teman-temannya berpindah tangan.

Tangan pria itu tergetar menerima bungkusan dari tanganku

Matanya menatap aneh padaku

Dan perutku tetap menyanyi riang…

 

Ah perutku sayang, tenanglah..

Kamu hanya sedikit berbagi kok..

Aku rasa, kita masih punya lebih banyak ’little luck’ dibanding dia, jadi sabar aja yah..?

Dan perutkupun berhenti bernyanyi.

Langkahku semakin ringan.

 

Siang ini aku harus mampir warung lain untuk beli vitamin C dan minuman ion untuk jaga-jaga saat aku tiba-tiba sakit nanti.

Karena Aku Melihatnya.

 

Aku merasa sungguh menjadi orang yang merugi.

Betapa Tuhan sayang padaku, di peliharaNya kehidupanku, di jagaNya keluargaku. Dan aku tak pandai mensyukurinya.. Aku merasa kecil dan tak ada artinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oh God Sorry Me..! Betapa kuakui, manusia adalah makhluk yang merugi dan sungguh-sungguh merugi

Tidurku..

 

 

Pengelanaanku siang tadi cukup melelahkan jariku..

Jari?

Hihi tentu saja. Karena aku harus menulis pengalamanku siang tadi itu untuk report diaryku.

Dan tak lama akupun terlelap dalam tidurku.

 

Kelabu itu muncul.. Terbang aku diatasnya.. Tenang aku dalam kabut ini. Tak kurasakan kakiku menjejak.. Aku terbang dalam bungkusan kabut kelabu..

Nun jauh di bawah sana, sebuah kota kecil terasa menyedotku untuk mengunjunginya..

Pasti sepasti air mengalir dari hulu ke hilir.. aku terus turun dan mulai menjejakkan kakiku diatas kota kecil itu..

 

Magelang tampak adem, sungai Elo yang mengalir cukup deras memanggil-manggil namaku untuk kembali mencicipi riak-riaknya.

Gemericik airnya menerjang batu-batu kali terdengar menenangkan..

Yah sayang sekali, tidak untuk saat ini.

Tak ada mood untuk berkelana atasnya.

Tujuanku kali ini adalah Rumah Edja.

Rumah sederhana yang tenang, diantara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Aku masuk kedalamnya.

Tenang..

Senyap..

Semua penghuninya terlelap..

Kupandangi sekelilingku.

 

Pemandangan yang membuat hatiku meringis, mataku memerah menahan air hangat didalamnya agar tak meluncur.

Foto-foto Edja sudah tak lagi terpasang di dinding ruang tengah…

Tampaknya mereka ingin menghibur luka kehilangan di hati mereka dengan menurunkan foto-foto di ruang tengah itu.

Walau kurasa… tak ada hasilnya.

Rasa sayang mereka terlalu dalam untuk dipungkiri.

Sakit itu terlalu perih untuk diobati..

Ya, benar-benar tak ada lagi satu foto Edja pun di dinding rumah itu..

Ah.. tapi aku malah makin merasakan kuatnya ’rasa’ yang terpancar dari rumah ini. Rumah ini tampak masih menginginkan kehadiran salah satu tuan mudanya. 

Anggota keluarga rumah itu pun masih sangat merindukannya.

Hembusan nafas mereka dalam tidurpun tak pernah bisa menipu suara hati mereka yang menangis merindukan senyuman si putra sulung saat nanti mereka membuka mata di pagi hari.

 

Betapa masih bisa kurasakan rasa kehilangan yang dalam dari lelap tidur penghuninya..

Harapan mereka pada putra sulung keluarga telah musnah dalam sekedip mata.

 

Betapa aku ingin melihat mereka tersenyum kembali..

Betapa … Ah.. begitulah hidup, sampai mati menutupnya..

 

Aku tersenyum dalam hati yang miris..

Aku pun merindukan hadirnya.

Aku merindukan senyum dan candanya dalam nyata.. Bukan mimpi seperti yang sudah-sudah..

Aku tak pernah menyesali keputusan Sang Penguasa Kerajaan Alam.

Aku hanya kangen dia..

Aku hanya ingin mengenangnya.

Ku hela nafas ku panjang-panjang, ini selalu membantuku meringankan dadaku yang penuh cerita tentangnya..

 

Kuletakkan Aster Kuning itu di teras rumah.

Kutinggalkan rumah itu dengan segala kenangan yang pernah tercipta.

Betapa kulihat ribuan kenangan telah tercipta antara mereka, berlaluan silih berganti tanpa henti. Kenangan itu ada di setiap sudut, setiap kedip mata, setiap detak jantung dan setiap hembus nafas penghuni yang tersisa..

Kenangan yang entah kapan bisa hilang dari ingatan mereka..

Kenangan yang selalu membuat mereka selalu ingin memutar kembli hidup mereka ke saat-saat si sulung masih ada diantara mereka..

Wahai Manusia, tak ada yang bisa kau lakukan untuk melawan takdir yang kuasa. Karena itu, berusahalah dengan keras.. dan terimalah kenyataan dengan ikhlas..

Dan jadikanlah peristiwa kematian sebagai peringatan bagimu..

 

Tiba-Tiba aku tertarik kebelakang dengan kerasnya. Terhentak kembali masuk ke dalam gulungan kabut kelabu. Ah .. lagi-lagi dicukupkanNya waktuku untuk mengenang hatiku dan bilur lukanya.. Kurasa ku belum cukup Tuhan.. Aku masih mau waktu lebih panjang lagi untuk menyadari dia sudah pergi.. Tapi ini lah waktuku untuk kembali ke duniaku..

 

Oahmm… Aku terbangun pagi ini dengan badan penat.

Mimpiku semalam begitu melelahkan.

Dan.. Ku pegang keningku.. Ah benar. Aku demam lagi.

Menggigil.

Badanku lemas.

Siall.. Ini karena Aku Melihat banyak sekali seharian kemarin.

Masih kuingat kilasan wajah pria malang dan keluarganya serta rumahnya.. Masih kuingat rumah Magelang yang sepi.. Ah sudahlah..

Kuraba meja sebelah kasurku, kuminum minuman ion yang sudah kusiapkan semalam tadi..

Aduuuh.. ini hari kerja pula.. Siall.. !

Aku terlalu capek melihat kejadian-kejadian itu..

 

Bahkan dalam tidurku semalam.

 

Pagi ini tiba-tiba aku kangen Edja, dan benda cair yang hangat terasa meleleh di pipiku..

Ku panjatkan doa untuk ketenangan dan cinta Tuhan untuknya..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuhanku sayang, hamba mohon jagalah dia, karena hamba sadar, tangan hambapun takkan pernah sanggup menjaganya..

Life Goes On..

And The Show ? MUST Goes On..

Uff..h..

 

Kulangkahkan kaki masuk kantor dengan sedikit enggan. Pegal, demam dan pusing. Tapi sudahlah, itu semua sudah resiko.

Laporan bulanan menunggu untuk di selesaikan dan dikirim ke Jakarta. Belum lagi AFE yang musti segera diajukan.

 

Hai cewek manis..

Sebuah sapaan pagi dari seorang teman baik yang cukup lama menghilang.. Dan pastinya sapaan itu membuatku sedikit tersenyum.. senang? Mungkin ya, karena sebenarnya sudah lama juga aku gak dapet sapaan manis begitu..

Tapi dalam sekejap senyumku hilang..

Huek huek huek..

Ufff… ni anak main-main yah..? ga jadi manis deh..

Dasar itemmmm.. Jadi inget, beberapa hari yang lalu dia sempat cerita kalau dia lihat burung hantu sewaktu dia lewat lapangan sepakbola pada malam hari. Dan berkelanalah aku beberapa malam kemudian untuk mencari burung hantu itu, sekedar ingin liat. Tapi ga ada burung hantu barang seekorpun di sana. Entah dia benar2 lihat atau hanya berkhayal. Sekali lagi Dasar Itemmm.

 

Uff.. laporan pagi ini tertulis kadar air sumur hasil pekerjaanku mencapai 92%. Oh My God..! Disaat harga minyak dunia melonjak, aku malah menyumbang air dalam jumlah yang ga tanggung-tanggung. Entah apa yang akan manajemen tanyakan saat rapat koordinasi nanti.

 

Desir angin halus menyapa kulitku..

”Ya Luce? Dyou miss me..?” sapaku pada Luce.

“Would u take me there once more?” tanyaku lembut.

Luce hanya tersenyum, sedikit mengangguk dan menatap pemandangan luar jendela. Lalu menghilang. Meninggalkan aku dengan suasana kantor yang masih lengang.

 

Pagi ini aku kembali merindukan hadirnya mengisi hariku.

Merindukan sapaan hangat dan leluconnya.

Merindukannya.

Merindukannya.

Sangat..

Sangat..

 

Hmmffffhhh..

Helaan nafas panjang kuhembuskan untuk menghilangkan kerinduan yang sangat menyiksa hati ini.

Kerinduan yang takkan pernah berujung..

Sampai saat nanti maut kan menjemputku.

Dan Kebesaran Tuhan, Kemurahan Tuhan, yang nantinya akan mempertemukan kami di tempat terakhir manusia berkumpul.

Dan kuharap Tuhan ijinkan aku untuk bertemu dengannya dalam baju terbaik kami.

Dalam restunya.

Dalam cintanya.

Dalam senyum kami yang terindah..

Aku harap..

Aku berharap..

Aku mengharap..

Aku berharap padamu Tuhanku..

Untukku temukannya kembali.

Kembali..

Kembali..

 

Hati terombang-ambing dalam bimbang, tubuh menggigil karena demam.

Jalanku terasa tak berarah, tapi beginilah hidup.. Tak ada alasan untuk mundur. Terus maju adalah suatu keharusan. Karena itu, tetap kulanjutkan tugasku hari ini. Sekaligus untuk membunuh rindu tak berujungku..

 

Detik kian berlalu, bagai besi yang kalah dengan waktu

Rambut berganti warna, bagai lazuardi yang kian hilang warna

Tersenyumlah karena akulah waktu, takkan pernah ada untuk kata menunggu

Jemputlah semua asa  yang selalu ada untuk suatu kata cinta

 

Bahkan airmatapun akan mengering

Bahkan hujanpun akan segera reda

Bahkan musimpun akan berganti

Namun tidak untuk kebekuan ini

Tidak untuk lunturnya rinduku akan hadirmu

Sayangku..

Aku bersimpuh untuk bahagiamu

disisiNYA

disisiNYA

disisiNYA

AMIENN

 

 

 

 

 

 

-Maka berikanlah cintasejati hatimu pada Rabb Sang Pencipta Alam Raya ini, bukan malah kau jatuhkan hati dan cintamu pada mereka yang ada diantara ciptaanNya-

Ah Sudahlah..

 

Pagi ini terasa lebih indah walau langit masih tampak hitam dan kelam.. tak tampak satupun bintang yang mungkin bisa menenangkanku..

 

Lega rasanya setelah menangis semalam. Mengenang seseorang dari masalalu.. Membuka kembali pintu-pintu hati yang telah lama sengaja kukunci rapat. Memalingkan mukaku kembali ke semua masalah yang selalu ku hindari..

 

Kutunggu waktu Subuh membuka pagi dengan kumandang bersujudnya..

 

Ah sudahlah.. Dia sudah tak ada.

Tak perlu kubuang jauh-jauh kenangan tentangnya.

Tak perlu kukunci rapat-rapat semua saat indah bersamanya.

Tak perlu ku pura-pura lupa akan hadirnya dia di masa-masaku yang lalu..

Tak perlu ku ganti playlist-ku dengan lagu-lagu ceria hanya untuk mengusir air mataku, toh dia tetap meleleh saat aku tiba-tiba kangen Edja.

Tak perlu ku ganti warna favoritku dari Hitam ke Pink, hanya untuk membuang image dukaku..

Sudahlah..

Tak perlu aku menjadi orang lain, biarlah semua tau dukaku tetap disini..

Sehingga tak perlu aku berpura-pura tersenyum saat sebenarnya aku perlu waktu dan tempat untuk sendiri dan menangis mengenangnya..

Biarlah airmata ini ada dan kering dengan sendirinya..

Biarlah semua terjadi. Karena begitulah adanya..

Sehingga lebih ringan hatiku menjalani hari-hariku.

Karena aku yakin suatu saat nanti. Pasti. Aku akan kembali membuka hatiku dan kembali merasakan hangatnya cinta..

 

Adzan Subuh berkumandang, ringan kulangkahkan kaki mengambil air wudlu. Ringan ku langkahkan kaki ke Masjid dekat rumah.. Ringan dan ikhlas ku panjatkan doa pagi ini.. walau penat di badan masih kadang terasa mengganggu gerak sholatku..

 

Kutangkap sesosok hitam di ujung jalan tadi.

Dia Luce. Dan dia tersenyum..

Kali ini bukan senyum yang misterius.. dia tersenyum hangat dan mengantarku dengan pandangan mata hangatnya sampai aku masuk ke Masjid untuk berjamaah Subuh.

Kubalas dengan kedipan sebelah mata, lalu dia menghilang..

 

Aku tak pernah tau, haruskah aku bersyukur atau aku harus menyesal telah menemukan Luce di ujung kelas pagi itu.. Tanpa senyum dan selalu menakut-nakuti teman-temanku. Mungkin ini persahabatan yang tak masuk akal bagi banyak orang. Tapi Luce kadang membawa istri dan anaknya untuk sekedar mengunjungiku. Dalam suasana hitam dan senyum yang misterius. Kami hanya saling menghargai..

Kami meminimalisasi percakapan atau kontak. Karena kami saling tau, tak boleh ada kerjasama antara makhluk tak terdefinisi seperti mereka dengan Manusia. Kami hanya boleh berjalan bersama di dunia kami masing-masing.

Belum lagi Kafe tengah kabut yang sering kukunjungi malam hari itu.. Hal-hal ganjil yang menghampiriku.. Banyak hal aneh yang aku sendiri ga pernah mengerti. 

Wallahualam.. Wallahu’alam Yaa Rahmaan..

 

 

 

 

Oh Thanx God.. Telah Kau atur hidupku dengan sedemikian indahnya..Terimakasih, karena takkan pernah sanggup aku mengaturnya walau hanya sedetik dalam hidupku..  Alhamdulillaah..

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: